CARA CEPAT MERAIH KEIMANAN
Kami mudahkan Al-Qur'an untuk diingat. Adakah yang mengambil perhatian?
(Surat al-Qamar: 17)
Bagaimana memahami keberadaan Allah?
Tumbuhan,
binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita,
dan semua jasad renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun
mati, merupakan bukti nyata adanya Kebijakan Agung yang
menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan, keteraturan dan
penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya
membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang
menciptakannya dengan sempurna. Pemilik kebijakan dan
pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem
sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan
pada setiap mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran
akan keberadaan Allah. Kesempurnaan ini tertulis dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan tujuh langit
yang berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari
ciptaanNya. Perhatikan berkali-kali - apakah engkau melihat
kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah sekali lagi. Matamu
akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)
PERTANYAAN 2
Bagaimana cara mengenal Allah?
Ciptaan yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Allah
sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui
Al-Qur’an - wahyu yang diturunkan kepada manusia sebagai
petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua sifat-sifat Allah yang mulia
disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia Maha Bijaksana,
Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha
Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas
segala sesuatu. Dia lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas
langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya. Dia lah
penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.
Dialah
Allah – tiada tuhan selain Dia. Dia mengetahui yang gaib dan
yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia lah
Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala nama-nama
yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)
PERTANYAAN 3
Mengapa kita diciptakan?
Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:
Aku ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembahKu. (Surat Az-Zariyat: 56)
Seperti
disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini
semata-mata untuk menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan
untuk memperoleh ridhaNya. Penghambaan manusia kepada Allah merupakan
batu ujian selama ia hidup di muka bumi.
PERTANYAAN 4
Mengapa kita diuji?
Allah
menguji manusia di muka bumi untuk memisahkan antara mereka
yang beriman dan mereka yang tidak beriman, serta untuk
menentukan siapa yang terbaik amal perbuatannya. Oleh karena itu,
pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti tindakan yang
sesuai dengannya tidak lah cukup. Di sepanjang hayatnya,
manusia diuji dalam hal keimanan dan keta’atannya kepada Allah,
termasuk kegigihannya dalam memperjuangkan agama Allah. Pendek
kata, diuji dalam ketabahan sebagai hamba Allah dalam berbagai
kondisi dan lingkungan yang dikehendakiNya. Ini dinyatakan Allah
dalam ayat berikut:
Dia Yang Mematikan
dan Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang
terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Surat
Al-Mulk: 2)
PERTANYAAN 5
Bagaimana cara mengabdi kepada Allah?
Menjadi
hamba Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kita untuk
tujuan mencapai kehendak dan ridhaNya. Yakni beramal sebaik
mungkin tanpa henti untuk mendapatkan ridha Allah, hanya takut
kepada Allah dan mengarahkan seluruh pikiran dan perkataan serta
perbuatan untuk tujuan tersebut. Allah mengingatkan dalam
Al-Qur’an bahwa penghambaan kepadaNya meliputi seluruh
kehidupan individu:
Katakanlah:
‘Sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidup dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam.’ (Surat Al-An’am: 162)
PERTANYAAN 6
Mengapa agama diperlukan?
Yang
pertama kali harus dilakukan oleh seseorang yang meyakini
keberadaan Allah adalah mempelajari apa-apa yang diperintahkan
dan hal-hal yang disukai Penciptanya. Dia lah yang memberinya ruh dan
kehidupan, makanan, minuman dan kesehatan. Selanjutnya dia harus
mengabdikan seluruh hidupnya untuk patuh kepada
perintah-perintah Allah dan mencari ridhaNya.
Agama
lah yang membimbing kita kepada moral, perilaku dan cara hidup
yang diridhai Allah. Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an
bahwa orang yang patuh kepada agama berada di jalan yang benar,
sedangkan yang lainnya akan tersesat.
Dia
yang dadanya terbuka untuk Islam mendapat cahaya dari
Tuhannya. Sungguh celaka orang-orang yang berkeras untuk tidak
mengingat Allah! Mereka dalam kesesatan yang nyata. (Surat az-Zumar: 22)
PERTANYAAN 7
Bagaimana cara menjalankan agama (dien)?
Orang
yang beriman kepada Allah dan menghambakan diri kepadaNya,
mengatur hidupnya agar sesuai dengan seruan Allah dalam
Al-Qur’an. Dia menjadikan agama sebagai petunjuk hidupnya. Patuh kepada
hal-hal yang baik menurut hati nuraninya, dan meninggalkan
segala yang buruk yang ditolak hati nuraninya.
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia agar siap untuk menghidupkan agamaNya:
Maka,
teguhkanlah pengabdianmu kepada Agama yang benar yang Allah
ciptakan untuk manusia. Tiada yang mampu merubah ciptaan Allah.
Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. (Surat Ar-Rum: 30)
PERTANYAAN 8
Dapatkah moral tegak tanpa agama?
Pada
lingkungan masyarakat yang tak beragama, orang cenderung
melakukan beragam tindakan yang tak bermoral. Perbuatan buruk
seperti penyogokkan, perjudian, iri hati atau berbohong merupakan
hal yang biasa. Hal demikian tidak terjadi pada orang yang ta’at
kepada agama. Mereka tidak akan melakukan semua perbuatan buruk
tadi karena mengetahui bahwa ia harus mempertanggungjawabkan
semua tindakannya di akhirat kelak.
Sukar
dipercaya jika ada orang mengatakan, “Saya ateis namun tidak
menerima sogokan”, atau “Saya ateis namun tidak berjudi”.
Mengapa? Karena orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak
mempercayai adanya pertanggungjawaban di akhirat, akan
melakukan salah satu hal di atas jika situasi yang dihadapinya
berubah.
Seseorang yang
mengatakan, “Saya ateis namun tidak berjinah” cenderung
melakukannya jika perjinahan di lingkungan tertentu dianggap
normal. Atau seseorang yang menerima sogokan bisa saja beralasan,
“Anak saya sakit berat dan sekarat, karenanya saya harus
menerimanya”, jika ia tidak takut kepada Allah. Di negara yang
tak beragama, pada kondisi tertentu maling pun bisa dianggap
sah-sah saja. Contohnya, masyarakat tak beragama bisa
beranggapan bahwa mengambil handuk atau perhiasan dekorasi dari
hotel atau pusat rekreasi bukanlah perbuatan pencurian.
Seorang
yang beragama tak akan berperilaku demikian, karena ia takut
kepada Allah dan tak akan pernah lupa bahwa Allah selalu
mengetahui niat dan pikirannya. Dia beramal setulus hati dan selalu
menghindari perbuatan dosa.
Seorang
yang jauh dari bimbingan agama bisa saja berkata “Saya seorang
ateis namun pema’af. Saya tak memiliki rasa dendam ataupun
rasa benci”. Namun sesuatu hal dapat terjadi padanya yang
menyebabkannya tak mampu mengendalikan diri, lalu mempertontonkan
perilaku yang tak diinginkan. Dia bisa saja melakukan
pembunuhan atau mencelakai orang lain, karena moralnya berubah
sesuai dengan lingkungan dan kondisi tempat tinggalnya.
Sebaliknya,
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak kan
pernah menyimpang dari moral yang baik, seburuk apapun kondisi
lingkungannya. Moralnya tidak “berubah-ubah” melainkan tetap
kokoh. Orang-orang beriman memiliki moral yang tinggi. Sifat-sifat
mereka disebut Allah dalam ayatNya:
Mereka
yang teguh dengan keyakinannya kepada Allah dan tidak
mengingkari janji; yang menghubungkan apa yang diperintahkan
Allah untuk menghubungkannya dan takut kepada Tuhan mereka dan takut
pada hisab yang buruk; mereka yang sabar untuk mencari
perjumpaan dengan Tuhan mereka, dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian harta yang kami berikan kepadanya secara
sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menolak kejahatan
dengan kebaikan. Merekalah yang mendapat kedudukan yang tinggi.
(Surat Ar-Ra’d: 20-22)
PERTANYAAN 9
Apa yang terjadi dengan sistem sosial jika tidak ada agama?
Konsep
pertama yang akan hilang pada sebuah lingkungan tak beragama
adalah konsep keluarga. Nilai-nilai yang menjaga keutuhan
keluarga seperti kesetiaan, kepatuhan, kasih-sayang dan rasa
hormat akan ditinggalkan sama sekali. Harus diingat bahwa keluarga
merupakan pondasi dari sistem kemasyarakatan. Jika tata nilai
keluarga runtuh, maka masyarakat pun akan runtuh. Bahkan bangsa
dan negara pun tidak akan ada lagi, karena seluruh nilai moral
yang menyokongnya telah musnah.
Lebih
jauh lagi, tak akan ada lagi rasa hormat dan kasih-sayang
terhadap orang lain. Ini mengakibatkan anarki sosial. Yang kaya
membenci yang miskin, yang miskin membenci yang kaya. Angkara
murka tumbuh pada mereka yang merasa dirintangi, hidup susah
atau miskin. Atau menimbulkan agresi terhadap bangsa lain. Karyawan
bersikap agresif kepada atasannya. Demikian pula atasan kepada
bawahannya. Para bapak berpaling dari anaknya, dan anak
berpaling dari bapaknya.
Sebab
dari pertumpahanan darah yang terus-menerus dan “berita-berita
kriminalitas” di surat kabar adalah ketiadaan agama. Setiap
hari dapat kita baca tentang orang-orang yang saling bunuh
karena alasan yang sangat sepele.
Orang
yang mengetahui bahwa ia akan diminta pertanggungjawaban di
akhirat kelak, tidak akan melakukan pembunuhan. Dia tahu bahwa
Allah melarang manusia melakukan kejahatan. Ia selalu
menghindari murka Allah karena rasa takutnya kepadaNya.
Janganlah
berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah)
memperbaikinya. Dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan
harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang
yang berbuat baik. (Surat al-A’raf: 56)
Tindakan
bunuh diri pun disebabkan oleh ketiadaan agama. Orang yang
melakukan bunuh diri sama saja dengan melakukan pembunuhan.
Orang yang hendak bunuh diri karena ditinggal pacar, misalnya,
harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum melakukannya:
Apakah ia akan melakukan bunuh diri jika pacarnya menjadi cacat?
atau menjadi tua? atau jika wajah pacarnya terbakar? Tentunya
tidak. Dia terlalu berlebihan menilai pacarnya seolah sebanding
dengan Allah. Bahkan menganggap pacarnya lebih penting dari
Allah, lebih penting dari hari akhirat dan dari agama. Ia lebih
mempertaruhkan jiwanya bagi pacarnya tersebut dibanding bagi
Allah.
Orang
yang dibimbing Al-Qur’an tidak akan melakukan hal semacam itu,
bahkan tidak akan terlintas sedikitpun dalam benaknya. Seorang
yang beriman menyerahkan hidupnya hanya untuk keridhaan Allah,
dan menjalani dengan sabar segala kesusahan dan masalah yang
Allah ujikan padanya di dunia ini. Ia pun tidak lupa bahwa kesabarannya
itu akan mendapatkan balasan berlipat ganda baik di dunia
maupun di akhirat.
Pencurian
pun merupakan hal yang sangat biasa pada masyarakat yang tak
beragama. Seorang pencuri tak pernah berpikir seberapa besar
kesusahan yang ditimbulkannya terhadap orang yang dicurinya.
Harta yang dikumpulkan korbannya puluhan tahun diambilnya dalam
semalam saja. Ia tak peduli seberapa besar kesusahan yang akan diderita
korbannya. Mungkin saja ia pernah sadar dan menyesali
perbuatannya yang telah menimbulkan kesusahan pada orang lain.
Jika tidak, keadaannya menjadi lebih buruk. Itu berarti bahwa
hatinya telah membatu dan selalu cenderung untuk melakukan
segala tindakan yang tak bermoral.
Dalam
masyarakat yang tak beragama, nilai-nilai moral seperti
keramahan, mau berkorban untuk orang lain, solidaritas dan
sikap murah hati telah lenyap sama sekali. Orang-orangnya tidak
menghargai orang lain sebagaimana layaknya manusia. Bahkan ada yang
memandang orang lain sebagai mahluk yang berevolusi dari kera. Tak
satu pun dari mereka mau menerima, melayani, menghargai atau
memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Apalagi
terhadap mereka yang dianggapnya sebagai berasal dari kera.
Orang-orang
yang berpikiran seperti ini tidak menghargai orang lain. Tak
satu pun memikirkan kesehatan, kesejahteraan atau kenyamanan
orang lain. Mereka tak peduli jika orang lain terluka, atau
pernah berusaha agar orang lain terhindar dari kecelakaan
semacam itu.
Di
rumah sakit, misalnya, orang yang hampir meninggal dibiarkan
begitu saja terlentang di ranjang-gotong dalam jangka waktu
yang tak tentu; tak seorangpun pun peduli kepadanya. Contoh
lain misalnya, pemilik restoran yang menjalankan restorannya tanpa
peduli dengan kebersihan. Tempatnya yang kotor dan tidak sehat tak
digubrisnya, tidak peduli dengan bahaya yang mungkin
ditimbulkan terhadap kesehatan orang lain yang makan di sana.
Ia hanya peduli kepada uang yang dihasilkannya. Ini hanya
sebagian kecil contoh yang kita temui sehari-hari.
Logikanya,
orang hanya baik terhadap orang lain jika bisa mendapat
imbalan yang menguntungkan. Namun bagi mereka yang menjalankan
standar moral Al-Qur’an, menghargai orang lain merupakan
pengabdian kepada Allah. Mereka tak mengharapkan imbalan apa
pun. Semuanya merupakan usaha untuk mencari ridha Allah dengan
terus-menerus melakukan amal baik, dan berlomba-lomba dalam
kebaikan.
PERTANYAAN 10
Apa manfa’at material dan spiritual bagi masyarakat jika mereka ta’at pada Al-Qur’an?
Perlu
kami ingatkan bahwa pengertian agama di sini adalah cara hidup
yang bermoral. Cara hidup yang disukai Allah. Cara yang
dipilihNya dan yang paling tepat bagi semua jenis manusia. Cara
hidup yang terbebas dari takhyul-takhyul dan mitos-mitos, dan
sepenuhnya di bawah bimbingan Al-Qur’an.
Agama
menciptakan lingkungan moral yang sangat aman dan nyaman.
Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa negara
terhenti sama sekali karena rasa takut kepada Allah. Orang
tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan ataupun berbuat kerusuhan.
Orang-orang yang memegang nilai-nilai moral siap bangkit bagi
bangsa dan negaranya serta tidak hendak berhenti untuk
berkorban. Orang-orang semacam ini selalu berusaha untuk
kesejahteraan dan keamanan negaranya.
Di
dalam masyarakat yang mengamalkan moral Al-Qur’an,
orang-orangnya sangat menghargai satu sama lain. Setiap orang
selalu berusaha agar orang lain merasa nyaman dan aman, karena menurut
ajaran islam, solidaritas, persatuan dan kerjasama merupakan hal
yang sangat penting. Setiap orang merasa berkewajiban untuk
mendahulukan kenyamanan dan kepentingan orang lain. Ayat
berikut merupakan contoh moralitas dari orang-orang yang
beriman:
Mereka yang
lebih dulu tinggal di Madinah, dan telah beriman sebelum mereka
datang, mencintai mereka yang datang kepada mereka untuk
berhijrah, dan tak terbetik keinginan di hati mereka akan
barang-barang yang diberikan kepada mereka, melainkan mendahulukan
mereka dibanding dirinya sendiri meskipun mereka sendiri sangat
membutuhkannya. Siapa yang terpelihara dari ketamakan, mereka
itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-Hashr: 9)
Dalam
lingkungan yang orang-orangnya takut kepada Allah, setiap
orang berusaha untuk kesejahteraan masyarakat. Tak seorang pun
bersikap boros. Setiap orang bekerja sama dan bersatu padu sambil
memperhatikan kepentingan orang lain. Hasilnya berupa masyarakat yang
kaya dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Masyarakat
demikian kaya akan moral dan material। Kekacauan yang
mengandung sikap memberontak sama sekali sirna. Setiap orang
dapat mengekang hawa nafsunya dan setiap masalah diselesaikan
dengan cara yang logis. Segala persoalan dipecahkan dengan kepala
dingin. Dan kehidupan, karenanya, selalu aman tentram.
PERTANYAAN 11
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi kehidupan keluarga?
Al-Qur’an mewajibkan sikap hormat kepada ibu dan bapak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Telah
Kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang
tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan masa
menyapih selama dua tahun: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua
orang-tuamu. Hanya kepada-Ku lah kamu kembali. (Surah Luqman: 14)
Dalam
keluarga yang mengamalkan moral Al-Qur’an tidak terdapat pertengkaran
ataupun pertentangan. Selalu nampak sikap hormat yang tinggi
kepada ibu, bapak dan anggota keluarga yang lain. Setiap orang
hidup dalam lingkungan yang menyenangkan.
PERTANYAAN 12
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi sistem bernegara?
Dalam
Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa keta’atan merupakan sifat
yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani akan sepenuhnya
patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam, setiap
orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak
pernah berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik
secara spiritual maupun material.
Dalam
masyarakat yang terbentuk dari orang-orang yang takut kepada
Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke tingkat persidangan.
Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi pada
masyarakat sekarang ini tak pernah dialami.
Mengatur
negara menjadi jauh lebih mudah, karena pemerintah tidak perlu
mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan, pembunuhan.
Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan
peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar
negeri. Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.
PERTANYAAN 13
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi bidang seni?
Orang-orang
yang ta’at pada moral Al-Qur’an saling menghargai satu dengan
lainnya. Mereka akan selalu berusaha menciptakan kondisi lingkungan
yang telah disetujui bersama. Lingkungan yang indah dalam segala
segi estetika. Karena rasa rindu pada surga, sarana-sarana
dunia digunakan sepenuhnya untuk menciptakan lingkungan yang
bersih dan menyenangkan. Semuanya terasa indah di mata, di
telinga dan di seluruh indra lainnya. Karenanya, seni dan
estetika berkembang dalam semua aspek kehidupan mereka.
Lebih
dari itu, orang yang ta’at kepada agama memiliki hati yang
bersih. Karenanya tak ada tekanan dalam pikirannya, sehingga dapat
menciptakan karya seni orisinil yang indah dan unik. Selain itu,
karya mereka ditujukan untuk menyajikan keindahan dan untuk
menyenangkan sesamanya yang ta’at, secara tulus hati dan
sungguh-sungguh.
PERTANYAAN 14
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi sistem pendidikan?
Pertama-tama,
menjalankan moral Al-Qur’an akan menghasilkan anak-anak dan
pemuda yang dewasa dan bijaksana. Perilaku tak acuh tidak akan
dimiliki oleh anak muda yang ta’at pada Al-Qur’an. Keta’atan pada
Al-Qur’an, karenanya, menghasilkan generasi yang perilakunya baik,
pikirannya terbuka, patuh, mau mengalah serta produktif.
Dinamisme, gairah serta semangat mereka diarahkan pada
perbuatan baik. Ketekunan dan daya pikir mereka berkembang.
Dalam lingkungan demikian, pelajarnya tidak hanya mengutamakan
kelulusan atau penghindaran dari hukuman, melainkan berkeinginan untuk
memberikan kontribusi pada bangsa dan negaranya.
Tak
pernah terdengar adanya pelanggaran disiplin di sekolah.
Lingkungan pendidikannya sangat tentram, konstruktif dan produktif.
Kerja sama antara guru dan pelajar berlandaskan pada kepatuhan,
rasa hormat dan toleransi. Para pelajarnya menjadi sangat
hormat dan patuh pada negara dan aparat keamanan.
Demonstrasi-demonstrasi pelajar yang sering kita lihat sekarang
ini tidak pernah terjadi karena memang tidak ada perlunya.
PERTANYAAN 15
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi lingkungan kerja?
Dalam
masyarakat yang menjalankan moral Al-Qur’an, lingkungan
kerjanya mengandung sikap saling memahami, kerjasama dan keadilan.
Pemberi kerja memperhatikan kesehatan karyawannya dan
memelihara kesehatan lingkungan kerja dengan sangat baik.
Dengan pikiran bahwa karyawan akan bekerja dalam waktu yang
cukup lama, mereka selalu berusaha menciptakan fasilitas kerja
yang indah dan menarik. Karyawannya digaji dengan upah yang layak. Tak
satu karyawanpun mengalami perlakuan buruk. Pihak atasan selalu
memperhatikan kondisi keluarga setiap karyawan. Mereka selalu
bersungguh-sungguh dan berusaha melindungi keluarga karyawan.
Tak pernah ada penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah.
Perilaku tak bermoral seperti ucapan dengki, atau mencegah
keberhasilan orang lain karena rasa cemburu, tak pernah
terjadi.
Hubungan antara pemberi kerja dan
karyawan bukan berdasarkan pada kepentingan pribadi dan
akal-akalan, melainkan berdasarkan kerjasama dan rasa saling
percaya. Karyawan memperhatikan kepentingan dan tujuan
perusahaan. Mereka tak pernah boros dan berpikiran bahwa “Bos memang
layak membayarnya”. Mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Moral
yang baik membuatnya tak pernah disalahkan, bahkan dilindungi
oleh atasan.
PERTANYAAN 16
Apa arti “mempersekutukan” Allah atau syirik?
Syirik
berarti menganggap seseorang atau benda lain atau suatu konsep
sebagai wujud yang setara atau lebih tinggi dari Allah. Anggapan
seperti ini bisa dari segi penilaian, sifat keberartian, rasa lebih
menyukai, atau keunggulan, yang disertai dengan
perbuatan-perbuatan yang mendukungnya. Hal seperti inilah yang
disebut sebagai “mempersekutukan Allah dengan Tuhan yang lain”.
Dengan kata lain, menganggap bahwa seseorang atau benda lain
memiliki sifat-sifat Allah, sama artinya dengan mempersekutukan Allah.
Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa dosa syirik tak akan diampuni:
Allah
tak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu
bagi siapa yang dikehendakiNya. Barang siapa mempersekutukan
Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Surat An-Nisa: 48)
PERTANYAAN 17
Apa arti “memuja berhala”?
Menurut
adat, kata “memuja berhala” berarti menyembah benda atau wujud
tertentu. Namun sebenarnya, maknanya lebih luas dan tidak terbatas
pada pengertian tersebut.
Di setiap masa,
selalu ada manusia yang mempersekutukan Allah, mengambil tuhan
lain dan menyembah pujaannya atau patung-patung. Memberhalakan
sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya mengatakan “ini tuhan yang
saya sembah”. Tidak juga berarti bahwa ia mesti bersujud
dihadapannya.
Pada dasarnya, menyembah
berhala dapat berarti rasa suka seseorang terhadap sesuatu
melebihi rasa sukanya kepada Allah. Misalnya, lebih menyukai
ridha seseorang dibanding ridha Allah, atau lebih takut kepada
seseorang dibanding rasa takut kepada Allah, atau lebih mencintai
seseorang dibanding cintanya kepada Allah.
Di
dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa sesuatu yang disekutukan
dengan Allah tidak akan bisa menolong orang yang mempersekutukannya.
Sesungguhnya
apa yang kamu sembah selain Allah adalah berhala. Dan kamu
membuat dusta. Sungguh yang kamu sembah itu tak mampu
memberikan rezki kepadamu. Maka mintalah rezki itu dari sisi Allah dan
sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. KepadaNya lah engkau
akan dikembalikan. (Surat Al-Ankabut: 17)
PERTANYAAN 18
Bagaimana menjauhkan diri dari penyembahan berhala?
Pertama-tama,
seseorang harus menegaskan dalam hatinya bahwa Allah lah
satu-satunya Tuhan. Dia lah pemilik segala kekuasaan, tak ada
sesuatu pun selain Allah yang berkuasa untuk memberi pertolongan ataupun
mendatangkan bahaya. Seseorang yang meyakini kebenaran ini,
hanya mengabdi kepada Allah dan tidak pernah
mempersekutukanNya.
Allah mengingatkan manusia untuk berpaling hanya kepadaNya agar selamat dari syirik.
Hanya
Dia lah yang kamu seru, dan jika Dia menghendaki, Dia
menghilangkan kesusahan kamu; kemudian engkau tinggalkan apa yang
engkau persekutukan denganNya. (Surat al-An’am: 41)
Perubahan
radikal yang dialami seseorang yang terbebas dari mempersekutukan
Allah dan kembali hanya kepada Allah, mula-mula terjadi di dalam
hatinya. Pandangan dan pikiran orang ini selanjutnya berubah
seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya mengejar kehidupan
di bawah pengaruh faham tertentu dan bersikap tak peduli
(jahil), kini menjalani hidupnya semata untuk mengejar ridha
Allah.
PERTANYAAN 19
Apa yang dimaksud dengan mencari ridha Allah pada tingkatan yang tertinggi?
Apa
yang akan Anda lakukan jika tempat tinggal Anda mengalami
bencana banjir? Apakah Anda akan naik ke lantai tertinggi dan menunggu
tim penyelamat, ataukah naik dari lantai ke lantai sejalan
dengan naiknya air? Saat Anda naik ke atap, apakah Anda akan
menggunakan tangga ataukah elevator? Jelas bahwa tindakan yang
paling bijaksana pada kondisi seperti itu adalah memilih
alternatif yang akan menyelamatkan Anda, yakni alternatif yang
memberikan hasil tercepat. Alternatif lainnya tak perlu dilihat lagi.
Dalam situasi ini, yang terbaik adalah naik ke lantai teratas
dengan menggunakan elevator. Demikian lah cara “memilih jalan
terbaik”.
Kaum yang beriman menggunakan semua
sarana material dan spiritual pada setiap jam, bahkan setiap
detik kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah. Jika harus
memilih di antara beberapa alternatif, dia memilihnya dengan
arif dan mendengarkan hati nuraninya. Dan pilihan yang diambilnya
ditujukan untuk mengharap ridha Allah. Dengan cara ini, ia bertindak
sesuai dengan ridha Allah pada tingkatan yang tertinggi.
PERTANYAAN 20
Apa arti beriman sepenuh hati?
Setiap
orang pasti tahu bahwa tangannya akan terbakar jika terkena api.
Ia tak perlu berpikir lagi apakah akan benar-benar terbakar atau
tidak. Artinya, ia memiliki keyakinan penuh bahwa api tersebut
akan membakarnya. Keyakinan seperti ini disebutkan dalam
Al-Qur’an sebagai berikut:
Ini lah
(Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang sungguh-sungguh meyakininya. (Surat Al-Jatsiyyah: 20)
“Memiliki
keimanan sepenuh hati” artinya mempercayai keberadaan Allah
dan keesaannya, hari kebangkitan, surga dan neraka dengan
sepenuh-penuhnya keyakinan, tanpa ragu sedikitpun akan
kebenarannya। Layaknya mempercayai keberadaan orang-orang
disekitar kita yang kita lihat dan kita ajak bicara, seperti
halnya pengetahuan intuitif terhadap contoh api di atas. Keimanan
penuh yang tumbuh di hati orang tersebut akan mendorongnya untuk
selalu beramal dengan cara yang diridhai Allah di setiap saat.
PERTANYAAN 21
Bagaimana cara mengetahui tindakan kita yang mana yang diridhai Allah?
Pada
orang yang takut kepadaNya, Allah selalu memberi tahu tindakan mana
yang paling tepat melalui hati nurani. Dalam sebuah ayat, Allah
berfirman:
Hai orang-orang beriman!
Jika engkau takut (bertaqwa) kepada Allah, niscaya Dia
memberimu furqon (yang dengannya engkau membedakan yang benar
dari yang salah) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni
dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat
Al-Anfal: 29)
Mesti diingat bahwa
suara pertama yang didengar individu di dalam hatinya adalah
suara nurani yang membantunya membedakan yang benar dari yang salah.
Suara ini lah yang memberitahukan perbuatan yang diridhai Allah.
Orang yang takut kepada Allah sampai kepada kebenaran dengan
jalan mendengarkan kepada hati nuraninya.
PERTANYAAN 22
Adakah suara lain di dalam hati selain suara hati nurani?
Semua
alternatif lain yang muncul setelah kata hati adalah “suara
hawa nafsu” yang berusaha menghapus kata hati. Hawa nafsu berusaha
sekuat tenaga untuk mencegah seseorang untuk melakukan perberbuatan
yang benar dan mendorong kepada perbuatan buruk.
Suara
ini mungkin tidak nampak jelas. Bisa muncul berupa serangkaian
alasan yang nampaknya masuk akal. Pengaruhnya bisa menyebabkan
seseorang berpikiran “semua ini (hati nurani) tak berarti sama sekali”.
Kenyataan ini disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan
jiwa yang Allah sempurnakan dan ilhamkan padanya pengetahuan
akan dosa dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang
menyucikan jiwa.” (Surat Asy-Syams: 7-9)
Ayat
di atas menyatakan bahwa manusia merupakan sasaran dosa (hawa nafsu),
namun diberi kesadaran bahwa ia mempunyai kewajiban untuk
menghindarinya. Manusia diuji untuk memilih antara kebaikan dan
keburukan.
PERTANYAAN 23
Bagaimana cara mata melihat?
Allah
mengeluarkanmu dari perut ibumu tanpa mengetahui sesuatu
apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar
kamu bersyukur. (Surat An-Nahl: 78)
Proses
penglihatan terjadi secara bertahap. Saat mata melihat benda,
kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata. Cahaya
ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan
menjatuhkannya secara terbalik di retina mata – bagian belakang
mata. Sinar yang jatuh di retina mata ini di ubah menjadi
sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron
ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut
pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal
listrik ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan
proses. Dalam bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan
terjadi, di bagian belakang otak yang sama sekali gelap dan
terlindung dari cahaya.
Saat mengatakan “kita
melihat”, sebenarnya kita hanya melihat efek-efek impuls yang
sampai ke mata kita dan diteruskan ke otak kita setelah diubah
menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita mengatakan “kita
melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik di
dalam otak kita.
Buku yang sedang Anda baca
serta pemandangan yang terbentang di kaki langit termuat dalam
ruang kecil di dalam otak ini. Hal yang serupa terjadi dengan
persepsi lain yang Anda tangkap melalui keempat indra lainnya.
PERTANYAAN 24
Apa maksud pernyataan bahwa materi merupakan “kumpulan persepsi-persepsi”?
Seluruh
informasi yang kita miliki tentang dunia luar, sampai kepada
kita melalui kelima indra kita. Dunia yang kita tahu terdiri dari
apa yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar lewat telinga, yang
kita cium dengan hidung, yang kita rasa dengan lidah, dan yang
kita rasa lewat sentuhan kulit. Riset modern mengungkapkan
bahwa persepsi kita hanyalah respons-respons otak terhadap
sinyal-sinyal listrik. Berdasarkan hal ini, orang yang kita
lihat, warna-warna, rasa keras melalui sentuhan, dan segala
sesuatu yang kita miliki dan yang kita terima sebagai dunia luar,
hanyalah sinyal-sinyal listrik yang sampai ke otak kita.
Contohnya
sebuah apel: Sinyal-sinyal listrik yang berkenaan dengan rasa,
bau, rupa dan kekerasan buah apel sampai ke otak kita melalui
syaraf-syaraf dan membentuk gambarannya di dalam otak. Jika syaraf
menuju otak terputus, persepsi yang berkenaan dengan buah apel
ini akan lenyap. Yang kita indra sebagai apel, sebenarnya
merupakan kumpulan persepsi-persepsi yang sampai ke otak kita.
Kita tak pernah bisa memastikan bahwa “kumpulan
persepsi-persepsi” ini benar-benar ada di luar kita. Kita tak memiliki
kesempatan untuk bisa keluar dari otak kita dan menyentuh
sesuatu yang ada di luar: yang kita miliki hanyalah
persepsi-persepsi kita.
PERTANYAAN 25
Apakah keberadaan dunia luar suatu keharusan?
Kita
tak pernah tahu apakah dunia luar benar-benar ada, karena setiap
benda hanyalah kumpulan persepsi-persepsi. Dan persepsi-persepsi ini
hanya ada dalam pikiran kita. Maka, satu-satunya dunia yang
benar-benar ada adalah dunia persepsi-persepsi. Satu-satunya
dunia yang kita tahu hanyalah dunia yang ada dalam pikiran
kita; dunia yang dirancang, direkam, dan hidup di sana. Pendek
kata, dunia yang diciptakan dalam pikiran kita. Itulah
satu-satunya dunia yang kita yakini keberadaannya.
PERTANYAAN 26
Apakah kita tertipu oleh persepsi-persepsi tanpa ada korelasi material yang nyata?
Benar,
kita tertipu dengan keyakinan pada persepsi-persepsi tanpa ada
korelasi material yang nyata. Demikian ini karena kita tak pernah
bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap melalui
otak memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa
saja timbul dari suatu sumber “buatan”. Kita sering
mengalaminya dalam mimpi kita. Kita seolah mengalami suatu
kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan yang
seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi
saja. Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”;
keduanya sama-sama dialami dalam otak.
PERTANYAAN 27
Jika semua keberadaan material yang kita tahu hanyalah persepsi-persepsi, lalu apa itu otak?
Karena
otak kita pun merupakan bagian dari dunia fisik seperti halnya
tangan, kaki, atau benda lainnya, maka otak pun merupakan persepsi
seperti yang lainnya. Mimpi merupakan contoh yang baik untuk
menjelaskan masalah ini. Anggaplah kita sedang melihat sebuah
mimpi. Dalam mimpi itu, kita memiliki tubuh khayalan, tangan
khayalan, mata khayalan, dan otak khayalan. Jika dalam mimpi
ini, kita ditanya, “Di mana Anda melihat?” Kita akan menjawab
“saya melihat dalam otak saya”. Padahal sebenarnya, tidak ada
otak di sana, melainkan hanya kepala dan otak khayalan. Wujud yang
melihat bukanlah otak khayalan dalam mimpi, melainkan “wujud”
yang derajatnya jauh lebih tinggi dari itu.
PERTANYAAN 28
Lalu siapa atau apa yang mengindra?
Sejauh
ini, kita meyakini bahwa yang melakukan pengindraan adalah
otak. Namun jika kemudian kita analisis otak ini, yang kita dapatkan
hanyalah molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada
organisme-organisme hidup lain. Artinya bahwa di dalam gumpalan
daging yang kita sebut sebagai “otak” ini, tak ada sesuatu
apapun yang bisa mengamati, yang memiliki kesadaran, atau yang
menciptakan wujud yang kita sebut sebagai “diri pribadi”.
Jelas
bahwa wujud yang melihat, mendengar dan merasakan ini bersifat
supra-material. Wujud ini “hidup” dan tidak berupa materi ataupun
gambaran dari materi. Wujud ini bersekutu dengan persepsi-persepsi
di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Wujud ini adalah “ruh”. Allah menyatakannya dalam Al-Qur’an:
Mereka
bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk
urusan Allah. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan tentangnya
melainkan sedikit. (Surat Al-Isra’: 85)
PERTANYAAN 29
Karena
dunia material yang kita indra hanyalah persepsi-persepsi yang
dilihat oleh ruh, lalu apa yang menjadi sumber persepsi-persepsi
ini?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya,
materi tidak memiliki wujud yang dapat mengatur dirinya
sendiri. Materi hanyalah sebuah persepsi, sesuatu yang sifatnya
“artifisial” (buatan). Karenanya, persepsi-persepsi ini
mestinya disebabkan oleh kekuatan lain. Dengan kata lain, persepsi
adalah sesuatu yang diciptakan. Jelas bahwa ada Sang Pencipta.
Yang menciptakan seluruh alam material, yakni kumpulan
persepsi-persepsi, yang diciptakanNya tanpa henti. Pencipta ini
adalah Allah Yang Maha Kuasa. Fakta bahwa langit dan bumi
bukanlah sesuatu yang stabil, dan keberadaanya hanyalah karena
diciptakan Allah. Semuanyanya akan lenyap setelah Dia menghentikan
penciptaannya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut ini:
Allah
lah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Sungguh
jika keduanya lenyap, tak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya
kecuali Allah. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
(Surat Fatir: 41)
PERTANYAAN 30
Apa
yang dimaksud dengan Allah meliputi segala sesuatu dan Dia
lebih dekat kepada kita dibanding urat leher kita sendiri?
Materi
tersusun hanya dari persepsi-persepsi. Satu-satunya wujud
nyata dan mutlak hanyalah Allah. Artinya, hanya Allah lah yang ada;
segala sesuatu selain dia hanyalah wujud semu. Karenanya Allah “ada
dimana-mana” dan meliputi segala sesuatu. Segala yang ada
merupakan gambaran yang Allah proyeksikan kepada kita.
Karena
setiap wujud material merupakan persepsi, maka ia tak dapat
melihat Allah. Sebaliknya, Allah melihat seluruh materi yang
diciptakannya dalam berbagai bentuknya. Artinya, kita tak dapat
menangkap wujud Allah dengan mata kita, namun Allah meliputi
kita dari dalam, dari luar, dalam pandangan dan pikiran. Kita
tak mampu mengucapkan perkataan apapun selain dengan
pengetahuan dan ijinNya, bahkan tanpa Dia bernafaspun tidak
akan bisa.
Meskipun kita melihat
persepsi-persepsi ini di sepanjang hidup kita, wujud terdekat
kepada kita bukanlah salah satu di antaranya, melainkan Allah
sendiri. Rahasia ayat berikut tersembunyi dalam kenyataan ini:
“Dia
lah yang menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya; karena Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya (sendiri). (Surat Qaf: 16)
Jika
manusia berpikiran bahwa tubuhnya hanya terdiri dari “materi”, ia
tidak akan dapat memahami fakta penting ini. Jika ia menganggap
otaknya sebagai “dirinya”, maka letak dunia luar adalah 20-30
cm dari dirinya. Namun jika dia mengerti bahwa materi hanya
lah imajinasi, maka pengertian luar, dalam, jauh ataupun dekat
tak memiliki arti sama sekali. Allah meliputi dirinya dan Dia
“sangat dekat” kepada dirinya.
PERTANYAAN 31
Apakah cinta saja, kepada Allah, tidak cukup? Apakah takut kepada Allah itu suatu keharusan?
Menurut
Al-Qur’an, cinta sejati menuntut kepatuhan kepada Allah dan
menghindari apa yang tidak diridhaiNya. Jika kita perhatikan
kehidupan dan perbuatan orang-orang yang merasa yakin bahwa cinta saja
sudah cukup, dapat kita lihat bahwa mereka tidak teguh dengan
pendiriannya itu. Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah
dengan setulus hati, sangat patuh kepada perintahNya. Ia
menghindari hal-hal yang dilarangNya serta memelihara dirinya
dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah. Ia menunjukkan
cintanya dengan mencari ridha Tuhannya di setiap saat dengan
rasa segan, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepadaNya.
Karena
sikap prihatinnya itu, ia sangat takut akan kehilangan
ridhaNya atau menimbulkan murkaNya. Mengungkapkan cinta hanya di bibir
saja, namun hidup dengan melewati batas-batas yang dilarang
Allah, tentunya merupakan sikap yang munafik. Allah
memerintahkan manusia untuk takut kepadaNya:
Bertaubatlah
kepadaNya dan takutlah kepadaNya, serta dirikanlah shalat, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang memepersekutukan
Allah। (Surat Ar-Rum: 31)
PERTANYAAN 31
Apakah cinta saja, kepada Allah, tidak cukup? Apakah takut kepada Allah itu suatu keharusan?
Menurut
Al-Qur’an, cinta sejati menuntut kepatuhan kepada Allah dan
menghindari apa yang tidak diridhaiNya. Jika kita perhatikan
kehidupan dan perbuatan orang-orang yang merasa yakin bahwa cinta saja
sudah cukup, dapat kita lihat bahwa mereka tidak teguh dengan
pendiriannya itu. Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah
dengan setulus hati, sangat patuh kepada perintahNya. Ia
menghindari hal-hal yang dilarangNya serta memelihara dirinya
dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah. Ia menunjukkan
cintanya dengan mencari ridha Tuhannya di setiap saat dengan
rasa segan, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepadaNya.
Karena
sikap prihatinnya itu, ia sangat takut akan kehilangan
ridhaNya atau menimbulkan murkaNya. Mengungkapkan cinta hanya di bibir
saja, namun hidup dengan melewati batas-batas yang dilarang
Allah, tentunya merupakan sikap yang munafik. Allah
memerintahkan manusia untuk takut kepadaNya:
Bertaubatlah
kepadaNya dan takutlah kepadaNya, serta dirikanlah shalat, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang memepersekutukan
Allah. (Surat Ar-Rum: 31)
PERTANYAAN 32
Seberapa besar mestinya rasa takut kita kepada Allah?
Setiap
orang yang menyadari keberadaan Allah dan mengenal
sifat-sifatNya yang agung merasa sangat takut kepada Allah. Selain Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, Allah juga adalah Al-Qohhar (Maha
Menguasai), Al-Hasib (Maha Membuat Perhitungan), Al-Muazzib
(Maha Menghukum), Al-Muntaqim (Maha Penyiksa), Al-Saiq (Yang
Memasukkan ke neraka). Karenanya, umat Islam takut kepada Allah
yang gaib. Mereka mengetahui tak ada seorang pun yang bisa
selamat dari hukumanNya, karena mereka tahu harus mempertanggungjawabkan
segala perbuatannya. Mereka selalu berusaha menghindari
perilaku yang tidak disukai Allah.
Harus
difahami bahwa takut di sini memiliki konotasi yang berbeda
dengan pengertian takut pada masyarakat tak beragama. Takut di
sini memberikan rasa aman bagi yang mengimaninya, dan memotivasi untuk
beramal mencari ridha Allah.
Berikut ini adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman:
Maka
takutlah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah
serta ta’atlah; dan nafkahkanlah apa yang baik bagi dirimu.
Barangsiapa terpelihara dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang
beruntung. (Surat At-Taghabun: 16)
PERTANYAAN 33
Apakah Al-Qur’an dapat difahami setiap orang?
Allah
menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi semua orang. Itulah
sebabnya Al-Qur’an sangat jelas dan mudah difahami. Allah pun
menekankan sifat ini: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang terang.” (Surat Al-Maidah: 15) Ayat lain yang lebih mempertegas hal itu adalah:
Demikianlah
Kami menurunkan Al-Qur’an dengan ayat-ayat yang nyata. Allah
memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. (Surat
Al-Hajj: 16)
Namun, untuk dapat melihat
kebijaksanaan dalam Al-Qur’an dan untuk memahami kemuliaannya,
seseorang harus membacanya dengan hati yang tulus dan selalu
berpikir sesuai dengan hati nuraninya.
PERTANYAAN 34
Bolehkah kita membaca Al-Qur’an setiap saat?
Al-Qur’an
merupakan satu-satunya petunjuk bagi orang yang beriman di
sepanjang hidupnya. Dalam sebuah ayatnya, Allah memerintahkan
istri-istri Rasul untuk membaca dan mengingat ayat-ayat Allah
serta hikmah (sunnah Nabi) di rumah-rumah mereka (Surat
Al-Ahzab: 34). Praktek seperti ini diperintahkan pula kepada
umat yang beriman saat itu. Ketika ayat ini sampai kepada
mereka dengan jelas, mereka membaca naskah Al-Qur’an di
rumah-rumah mereka serta menghapalnya. Bagi kita, akan lebih utama jika
membaca Al-Qur’an sambil mengamalkannya dengan rajin.
PERTANYAAN 35
Apakah Al-Qur’an ditujukan bagi manusia di segala jaman?
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh dunia di sepanjang masa:
Inilah
penerang bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran
bagi orang-orang yang beriman. (Surat Ali Imran: 138)
Allah
memberikan contoh-contoh dalam Al-Qur’an berdasarkan
peristiwa-peristiwa di masa lampau agar manusia yang hidup di
sepanjang jaman menjadi waspada dan tidak mengulang kesalahan
yang sama. Peristiwa-peristiwa serupa yang disebutkan dalam
Al-Qur’an bisa saja dialami seseorang, bahkan di jaman sekarang
ini.
PERTANYAAN 36
Benarkah Allah menjaga ayat-ayat Al-Qur’an dari perubahan hingga saat ini?
Al-Qur’an
dilindungi Allah. Ia diturunkan 1400 tahun yang lalu dan tidak
mengalami perubahan sedikitpun hingga saat ini. Kebenaran ini
dinyatakan Allah dalam ayat berikut:
Kami lah yang menurunkan peringatan (Al-Qur’an) dan sungguh Kami yang memeliharanya. (Surat Al-Hijr: 9)
Telah
sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang
benar dan adil. Tak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatnya. Dia
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat al-An‘am: 115)
Janji
Allah ini sudah cukup bagi orang-orang yang beriman. Malah, Allah
telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab kebenaran yang
mengandung keajaiban ilmiah dan keajaiban numerik.
PERTANYAAN 37
Apa keajaiban-keajaiban ilmiah dalam Al-Qur’an?
Meskipun
Al-Qur’an diwahyukan 1400 tahun yang lalu, di dalamnya
mengandung fakta-fakta ilmiah yang sama sekali tak diketahui pada saat
itu. Fakta-fakta tersebut baru ditemukan pada jaman kita melalui
peralatan ilmiah dan teknologi mutakhir. Ciri ini jelas
menunjukkan keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari
Allah. Berikut adalah beberapa contoh dari keajaiban tersebut:
Temuan terbesar abad 2000 menyatakan bahwa alam semes
ta
terus mengembang. Namun, fakta ini telah Allah sampaikan
kepada kita 1400 tahun yang lalu dalam ayat ke-47 Surat Az-Zariyat:
Kamilah yang membangun alam semesta
dengan kekuasan Kami, dan sungguh, Kami terus mengembangkannya.
(Surat adh-Dhariyat: 47)
|
Pergerakan benda-benda langit dalam orbitnya yang tetap, dinyatakan Al-Qur’an berabad-abad yang lampau:
Dan
Dia lah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan,
masing-masing bergerak dalam garis edarnya. (Surat al-Anbiya:
33)
Jika kita teliti makna kata Arabnya dari
ayat yang menyebutkan kata ‘matahari’ dan ‘bulan’, kita akan
mendapatkan sifat-sifat yang menarik. Dalam ayat-ayat tersebut,
kata siraj (pelita) dan wahhaj (menyala terang) digunakan
untuk matahari. Sementara untuk bulan digunakan kata munir (berkilau,
menerangi). Kita tahu bahwa matahari menghasilkan panas dan sinar
yang dahsyat sebagai akibat dari reaksi-reaksi nuklir di
dalamnya, sementara bulan hanya memantulkan cahaya yang datang
dari matahari. Pemisahan ini dinyatakan sebagai berikut:
Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana Allah membuat tujuh langit dengan
penuh serasi satu dengan lainnya, dan membuat bulan sebagai
cahaya, dan membuat matahari sebagai pelita? (Surat Nuh: 15-16)
Sifat angin sebagai sarana “penyerbukan” disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat ke-22:
Dan
kami tiupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan
kami turunkan hujan dari langit, dan kami beri minum kamu dengan air
itu. (Surat al-Hijr: 22)
Kata Arab
“penyerbuk” merujuk pada efek terhadap tumbuhan maupun awan.
Sains moderen dalam bidang ini menunjukkan bahwa angin memang
memiliki kedua fungsi ini.
Keajaiban Al-Qur’an lainnya ditegaskan dalam ayat berikut ini:
Dia
menciptakan langit dan bumi untuk tujuan Kebenaran. Dia
menutup malam atas siang, dan menutup siang atas malam. . . (Surat
az-Zumar: 5)
Dalam ayat ini, saling
menutupnya (membungkus) antara siang dan malam diuraikan dengan
kata “takwir”. Dalam bahasa kita, kata ini berarti membuat
sesuatu bertumpang tindih, terlipat seperti kain yang digulungkan. Dalam
kamus bahasa Arab, kata ini menerangkan suatu tindakan
membungkus sesuatu dengan melilitinya, seperti halnya
membungkus kepala dengan turban. Karenanya, secara implisit
ayat ini merupakan informasi akurat mengenai bentuk bumi.
Sebuah ungkapan yang tepat bagi bentuk bumi yang bulat. Artinya,
bulatnya bentuk bumi telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an pada
abad ke-7.
PERTANYAAN 38
Adakah sistem pengkodean numerik dalam Al-Qur’an?
Al-Qur’an
juga mengandung keajaiban numerik. Penyisipan angka “19”
secara terkode dalam ayat-ayat tertentu, dan jumlah pengulangan
kata-kata tertentu merupakan contohnya.
Pengulangan kata: Di dalam Al-Qur’an, beberapa kata diulang-ulang dengan jumlah pengulangan yang sama. Misalnya:
1. Frasa “tujuh langit” diulang sebanyak 7 kali.
2. Kata “dunia” dan “akhirat” sama-sama diulang sebanyak 115 kali.
3. Kata “hari” diulang sebanyak 365 kali, sementara kata “bulan” diulang sebanyak 12 kali.
4.
Kata “iman” (tanpa melihat jenis kelamin) diulang sebanyak 25
kali di sepanjang Al-Qur’an. Demikian pula kata “khianat” (suami
terhadap istri atau sebaliknya) dan kata “kufur” (menutupi
kebenaran).
5. Jika kita hitung kata
“katakanlah”, jumlahnya ada 332. Akan didapat Jumlah yang sama
jika kita menghitung jumlah pengulangan frase “mereka
berkata/mengatakan”.
6. Kata “setan” digunakan sebanyak 88 kali. Kata “malaikat” pun diulang sebanyak 88 kali.
Keajaiban
angka 19: Angka 19 disebut dalam Al-Qur’an dalam pernyataan
tentang neraka: “Ia dijaga oleh sembilan belas penjaga.” (Surat
Al-Mudatsir: 30). Angka ini juga dikodekan dalam ayat Qur’an lainnya.
Misalnya:
“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Kalimat yang kita temui pada setiap permulan surat ini memiliki 19 huruf.
Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; angka 114 merupakan kelipatan dari 19, sama dengan 6 dikali 19.
Ada banyak angka kelipatan 19 lainnya:
Jumlah kata “Allah” dalam Al-Qur’an adalah 2698 (19 x 142);
Jumlah kata “Maha Penyayang” dalam Al-Qur’an adalah 114 (19 x 6);
Jika
kita tambahkan semua angka dalam Al-Qur’an (tanpa menghitung
pengulangannya), kita akan mendapatkan angka 162.146, yakni 19 x 8534;
Surat pertama yang diwahyukan terdiri dari 19 ayat.
Banyak contoh lain yang tak terhitung jumlahnya.
PERTANYAAN 39
Bagaimana kita mengetahui keberadaan akhirat?
Sekarang
ini, Allah membuat manusia hidup dalam dunia persepsi. Sebuah
ciptaan yang sempurna dan indah, dengan tampilan tiga dimensi serta
penuh warna dan cahaya. Allah yang menciptakan dunia ini tentu saja
mampu menciptakan alam yang jauh lebih indah lagi.
Seperti
halnya gambaran alam yang Allah bentuk dalam otak manusia, Dia
pun berkuasa untuk mengalihkan manusia ke dimensi lain setelah
kematian manusia. Dia akan menunjukkan gambaran-gambaran dalam
lingkungan yang berbeda. Alam dengan dimensi lain itu adalah
alam akhirat.
PERTANYAAN 40
Apakah reinkarnasi itu ada?
Reinkarnasi
adalah takhyul yang tidak berdasar. Pendapat ini berasal dari
orang-orang tak beragama yang berpikiran bahwa manusia akan
“menghilang setelah kematian”. Atau timbul pada orang-orang yang
merasa takut untuk memasuki alam akhirat setelah kematian. Bagi kedua
kelompok manusia ini, kembali ke dunia lagi setelah kematian
merupakan suatu harapan yang menarik.
Dalam
banyak ayatnya, Al-Qur’an menyebutkan bahwa hanya ada sekali
kehidupan di dunia ini. Tempat dimana manusia diuji amal perbuatannya.
Disebutkan pula bahwa setelah kematian tidak ada arah kembali ke
dunia ini. Manusia hanya mati sekali saja. Ini ditegaskan
dalam ayat berikut ini:
Mereka
tidak akan merasakan kematian di dalamnya kecuali sekali saja.
Tuhanmu memelihara mereka dari azab api neraka. (Surat Ad-Dukhan:
56)
|
PERTANYAAN 41
Apakah mati itu berarti menghilang?
Bagi
manusia, mati tidak berarti menghilang. Kematian merupakan suatu
peralihan ke kampung akhirat, tempat tinggal yang sebenarnya.
Kematian memutuskan hubungan seseorang dengan tatanan dunia,
termasuk tubuhnya yang ada dalam tatanan ini. Saat hubungan
antara tubuh dan ruh terputus, yakni setelah kematian, ruh
mulai berhubungan dengan gambaran akhirat. Tabir di depan
matanya tersingkap, kemudian sadarlah ia bahwa mati bukan
berarti menghilang seperti anggapannya. Ia memulai kehidupan akhirat
seperti memulai hari-harinya saat terbangun dari tidurnya. Ia
dibangkitkan dari kematian. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
“Dia lah yang memberi kehidupan dan menyebabkan kematian. Jika
Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah” maka
jadilah. (Surat Ghafir: 68) Peralihan manusia ke alam akhirat terjadi dengan sebuah perintah Allah seperti itu.
PERTANYAAN 42
Apa yang dialami orang saat kematiannya?
Apakah
orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami
akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan mengerjakan
amal saleh, yakni kehidupan dan kematian mereka akan sama? Amat
buruklah persangkaan mereka itu! (Surat al-Jatsiyah: 21)
Kematian
spiritual yang dialami manusia telah diterangkan dalam
Al-Qur’an. Dan karenanya jelas bahwa kematian spiritual berbeda
dengan kematian tubuh secara klinis. Dinyatakan di dalam Al-Qur’an
bahwa peristiwa-peristiwa tertentu terjadi saat kematian.
Peristiwa-peristiwa itu hanya bisa dilihat oleh yang
mengalaminya, namun tidak dapat dilihat orang lain.
Sebagai
contoh, seorang yang kafir yang tak percaya akan keberadaan
Allah nampak seolah mati dengan tenang, layaknya sedang tidur.
Padahal kenyataannya, ruhnya yang beralih ke dimensi lain
mengalami rasa sakit yang amat berat. Sebaliknya, ruh orang beriman yang
nampak menderita saat kematiannya, dicabut nyawanya oleh
malaikat maut dengan lembut perlahan-lahan.
Peristiwa
yang dialami orang beriman dan orang yang kafir di saat
kematiannya berbeda sama sekali. Dalam Al-Qur’an disebutkan
bahwa orang yang kafir akan mengalami hal berikut saat kematiannya:
Jiwanya akan dipukul di bagian punggung dan mukanya.
Mereka mengalami siksa kematian yang pedih.
Malaikat-malaikat mengabari mereka dengan siksaan yang kekal.
Ruhnya akan dicabut dengan kasar dari tubuhnya.
Sementara bagi orang-orang yang beriman:
Ruhnya dicabut dengan lembut dan perlahan-lahan dari tubuhnya.
Mereka disambut para malikat dengan ramah disertai ucapan salam.
Saat malaikat mencabut ruhnya, mereka dikabari berita surga.
PERTANYAAN 43
Apakah alam semesta pun akan mengalami kematian?
Allah
menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa seluruh mahluk akan mengalami
kematian, termasuk alam semesta ini. Semua binatang, tumbuhan, manusia
akan mati. Planet-planet, juga bintang-bintang dan matahari
akan mati. Pada hari kiamat, semua wujud materi mati dan
hancur. Peristiwa kiamat merupakan peristiwa yang paling
dahsyat yang pernah dialami manusia. Peristiwa ini dirujuk
dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Namun
manusia masih hendak mengingkari apa yang dihadapan mereka,
dan bertanya, ‘Bilakah datangnya kiamat itu?’
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
Dan apabila bulan telah hilang cahayanya.
dan matahari dan bulan dikumpul (bertabrakan).
Pada hari itu manusia akan bertanya: ‘Kemana tempat berlari?’
Sekali-kali tidak! Tak ada tempat berlindung.
Hanya kepada Tuhanmulah hari itu tempat kembali.
Pada
hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah
dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Surat al-Qiyamah:
5-13)
PERTANYAAN 44
Apakah
hari kiamat itu hanya dialami oleh orang-orang yang masih
hidup ataukah oleh semua orang yang pernah hidup sebelumnya?
Hari
kiamat dimulai dengan tiupan sangkakala. Bersamaan dengan
gempa yang dahsyat dan ledakan yang memekakkan telinga, seluruh
manusia di muka bumi menyadari bahwa mereka sedang menghadapi bencana
yang menakutkan. Bumi dan langit terbelah dan alam semesta pun
berakhirlah. Tak ada kehidupan yang tersisa di muka bumi. Saat
tiupan sangkakala yang kedua dibunyikan, manusia dibangkitkan
dan dicabut keluar dari kuburnya. (Surat Az-Zumar: 39,68)
Seluruh manusia menyaksikan peristiwa yang berkembang setelah kebangkitan.
Namun
Allah menjamin bahwa orang-orang yang beriman akan terjaga
dengan aman dan tentram, dan terbebas dari rasa takut terhadap
hari kiamat:
Barang siapa membawa
kebaikan, maka ia memperoleh balasan yang lebih baik dan
selamat dari kejutan dahsyat hari itu. (Surat An-Naml: 89
PERTANYAAN 45
Perhitungan macam apa yang dialami pada Hari Perhitungan?
Pada
Hari Perhitungan, setiap orang akan diperiksa amalnya. Pada tahap
pertama, segala hal yang diperbuat selama hidupnya akan ditunjukkan
tanpa ada yang terlewat:
“...bahkan
jika ada sesuatu (perbutan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan
mengeluarkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(Surah Luqman: 16).
Pada hari itu tak ada satu perbuatan pun yang dirahasiakan.
Orang
bisa saja lupa apa yang dikerjakannya saat hidup di dunia.
Namun Allah tidak pernah lupa terhadap segala perbuatnya, bahkan
Dia akan menunjukkan kehadapannya pada hari perhitungan. Pada hari
itu, setiap orang diberi catatan amalnya. Juga hasil timbangan
yang adil atas kebaikan dan kejahatannya, tanpa dirugikan
sedikitpun. Selama perhitungan, pendengaran, penglihatan dan
kulitnya menjadi saksi atas perbuatannya selama hidup di dunia.
Setelah perhitungan yang menggelisahkan itu, orang-orang yang
tidak beriman digiring ke neraka. Sedangkan orang-orang beriman
menjalani perhitungan yang mudah, dan memasuki surga dengan
wajah cerah dan gembira sebagai hari kemenangan yang besar.
PERTANYAAN 46
Dapatkah seseorang menanggung dosa orang lain?
Allah
telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa setiap orang akan dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Setiap orang akan
melihat apa yang diperbuatnya, dan tak seorangpun bisa menolong
orang lain. Ini dinyatakan dalam ayat berikut:
Orang
yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang
yang berat dosanya meminta tolong untuk dipikulkan dosanya,
tak ada seorangpun akan memikulkan untuknya meskipun itu kaum
kerabatnya... (Surat Al-Fatir: 18)
PERTANYAAN 47
Apakah sesorang memiliki kesempatan untuk memperbaiki amal yang telah lalu setelah ia melihat kebenaran akhirat?
Pada
hari itu, tidak ada peluang untuk memperbaiki amal. Meyakini setelah
kematian adalah hal yang sia-sia. Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa
pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon agar
diberi kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun
permintaan mereka tak akan diterima. Mereka berharap dapat
kembali ke dunia, tetapi permintannya ditolak. Setelah
menyadari tak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat menyesal.
Keputusasaan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan
yang menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sadar
akan mendapat hukuman yang kekal di akhirat, tanpa sedikitpun
peluang untuk menghindar:
Dan jika kamu
melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata:
‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia, kami tak akan
mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang
beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu
selalu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke
dunia, mereka akan kembali kepada perbuatan yang dilarang bagi
mereka. Dan sesungguhnya mereka itu pendusta-pendusta belaka.
Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di dunia saja dan
kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya kamu
melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah
berfirman, ‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata,
‘Sungguh benar, demi Tuhan kami!’ Allah berfirman, Karena itu
rasakanlah azab ini, karena kamu mengingkarinya.’ (Surat
Al-An’am: 27-30)
PERTANYAAN 48
Seperti apakah neraka itu?
Neraka
adalah tempat segala macam penderitaan, siksaan dan hukuman yang
kekal bagi orang-orang yang tidak beriman. Mengenai hal ini,
Al-Qur’an menerangkan:
Sesungguhnya
neraka itu tempat yang selalu menanti – tempat kembali bagi
orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya
berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan ataupun
mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah – sebagai
pembalasan yang setimpal. (Surat An-Naba’: 21-26)
PERTANYAAN 49
Apa yang diceritakan Al-Qur’an tentang neraka?
Ayat-ayat
Al-Qur’an menyebutkan adanya kehidupan di neraka. Namun
kehidupan yang dialami adalah segala macam kehinaan, penderitaan
dan siksaan lahir dan batin.
Dibandingkan
dengan kehidupan di dunia, manusia tak dapat membayangkan
bagaimana beratnya siksaan di neraka. Orang-orang yang tidak
beriman mengalami siksaan berat dari berbagai segi, baik lahir maupun
batin. Lagi pula, siksanya tak pernah berhenti ataupun berkurang:
Sekali-kali tidak! Sungguh neraka itu
adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala,
yang memanggil orang yang membelakang dan berpaling, serta
mengumpulkan harta dan menyimpannya (dengan kikir). (Surat
Al-Ma‘arij: 15-18)
PERTANYAAN 50
Seperti apakah surga itu?
Surga
adalah tempat kembali bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat
Al-Qur’an, menta’ati perintah-perintah Allah dan hidup demi
mencari ridha Allah. Di dalamnya, mereka hidup kekal dan mendapatkan apa
yang mereka inginkan. Di dalam surga, manusia bisa menikmati
dengan segera segala keindahan yang disukainya, dan kapanpun
bebas melakukan apa yang diinginkannya. Di surga, terdapat
segala sesuatu yang dikehendaki manusia, bahkan lebih dari itu.
Pahala berlimpah yang diterima orang-orang yang beriman
disebutkan dalam ayat-ayat berikut:
Hamba-hambaku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini; tidak pula kamu bersedih hati.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka yang dahulunya berserah diri.
Masuklah kamu dan istri-istri kamu ke dalam surga, dan bergembiralah.
Diedarkan
kepada mereka piring-piring dan piala dari emas, dan di dalam
surga itu terdapat segala apa yang diinginkan hati dan sedap
dipandang mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Itulah surga yang akan diwariskan kepadamu untuk amal-amal yang dahulu engkau kerjakan. (Surat Az-Zukhruf: 68-72)
PERTANYAAN 51
Siapa saja yang masuk ke dalam surga?
...Allah
menanamkan kedalam hati mereka keimanan dan menguatkan mereka
dengan pertolongan yang datang dari padaNya. Dan Allah masukkan
mereka kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun
merasa puas terhadapNya. Mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang
beruntung. (Surat Al-Mujadilah: 22)
Sifat-sifat
lain dari orang beriman, yang karenanya Allah menjanjikan
surga kepada mereka, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai
berikut:
mereka yang beriman dan melakukan amal saleh (Surat Al-Baqarah: 25),
mereka yang selalu takut (taqwa) kepada Allah (Surat Ali ‘Imran: 15),
mereka yang menahan amarahnya (Surat Ali ‘Imran: 134),
mereka yang tidak meneruskan perbuatan kejinya (Surat Ali ‘Imran: 135),
mereka yang menta’ati Allah dan RasulNya (Surat an-Nisa: 13),
mereka
yang tetap mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta
beriman kepada Rasul-rasul Allah dan membantunya (Surat
Al-Ma‘idah: 12),
mereka yang sungguh-sungguh dalam berbuat kebenaran (Surat Al-Ma‘idah: 119),
mereka yang beramal baik (Surat Yunus: 26),
mereka yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhannya (Surat Hud: 23),
mereka yang bertaubat (Surat Maryam: 60),
mereka yang memelihara amanat dan janjinya (Surat Al-Muminun: 8),
mereka yang tetap melaksanakan shalat (Surat Al-Muminun: 9),
mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan (Surah Fatir: 32),
mereka yang kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus (Surat Qaf: 32),
mereka
yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah meskipun Dia tidak
kelihatan, dan datang dengan hati yang taubat. (Surah Qaf: 33).
PERTANYAAN 52
Apa itu kebajikan sejati?
Dalam
setiap masyarakat, ada konsep umum mengenai “kebajikan” yang ditetapkan
oleh masing-masing anggotanya. Pada masyarakat tertentu, orang
yang memberikan uang kepada pengemis, bersikap ramah kepada
orang lain, atau membantu menyelesaikan masalah-masalah orang
lain dianggap sebagai “orang yang melakukan kebajikan”. Namun
yang disukai Allah tidak lah terbatas sampai di situ. Orang
yang benar-benar “berbuat kebajikan” adalah yang percaya kepada
Allah dengan hati yang tulus dan mengatur hidupnya dengan cara
yang diridhai Allah. Allah menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an:
Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu
kebajikan. Melainkan kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,
hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta dan hamba
sahaya; dan yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka
itulah orang-orang yang taqwa. (Surat al-Baqara: 177)
PERTANYAAN 53
Bagaimana konsep cinta dalam Al-Qur’an?
Dalam
masyarakat yang pola hidupnya tidak sesuai dengan Al-Qur’an,
rasa cinta dan rasa hormat antar sesama diukur dengan patokan nilai
tertentu. Persamaan budaya, pangkat, kecantikan, atau bahkan
cara berpakaian merupakan beberapa di antaranya.
Bagi
orang-orang yang beriman, tujuan sejatinya adalah ridha Allah.
Oleh karena itu, rasa cinta kepada sesama berpatokan pada rasa
cintanya kepada Allah. Karena cintanya kepada Allah lah, mereka
mencintai dan mengasihi apa yang diciptakan Allah. Dan
karenanya pula mereka tidak pernah berteman dengan orang yang
tidak disukai Allah, apalagi mencintai atau mengasihinya. Ini
dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Kamu tidak akan
mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,
atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
(Surat Al-Mujadilah: 22)
PERTANYAAN 54
Mengapa umat yang beriman harus selalu bersatu selamanya?
Allah
memerintahkan dalam banyak ayat agar orang-orang beriman selalu
bersatu, dan tidak bercerai berai hanya karena terpikat oleh kehidupan
duniawi:
Dan berpegang teguhlah
kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai
berai. Dan ingatlah akan nikmat allah kepadamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan dan kemudian mempersatukan hatimu
sehingga kamu menjadi saudara karena anugrahNya; dan kamu ada di tepi
jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat
petunjuk. (Surat Ali ‘Imran: 103)
Seperti
terhadap perintah-perintah lainnya, orang yang ta’at kepada
Al-Qur’an mesti menjalankan perintah ini dengan sungguh-sungguh.
Dapat bersatu dengan mereka yang beriman merupakan suatu anugrah dan
memberi kekuatan. Sebagai contoh, Allah menjadikan Musa sebagai
nabi, maka Musa memohon kepada Allah agar Harun menjadi
pembantunya.
Orang-orang beriman saling
mengingatkan sesamanya tentang Allah. Mereka mencegah
saudaranya melakukan perbuatan keji atau membuat kesalahan.
Mereka selalu berusaha untuk saling tolong-menolong. Dibanding
manusia lainnya, orang-orang beriman memiliki standar moral yang
tertinggi, dan selalu bertindak dengan penuh rasa tanggung
jawab. Karenanya, lingkungan yang paling aman adalah lingkungan
tempat bersatunya orang-orang beriman.
PERTANYAAN 55
Kehýdupan bagaimana yang Allah janjikan kepada orang-orang beriman?
Dalam
segala segi, kehidupan orang-orang beriman di dunia ini selalu
indah. Demikian pula nantinya di akhirat. Kepada mereka yang beramal
saleh, Allah menyampaikan kabar gembira bahwa mereka akan
mendapat imbalan yang banyak di dunia ini:
Barang
siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan. (Surat An-Nahl: 97)
PERTANYAAN 56
Bagaimana cara berdo’a kepada Allah? Apakah ada tempat, waktu atau bentuk khusus untuk berdo’a?
Tidak
ada tempat, waktu ataupun cara khusus untuk berdo’a kepada
Allah. Allah lebih dekat kepada kita dari pada urat leher kita
sendiri. Dia mengetahui dan melihat segala sesuatu yang terlintas dalam
pikiran kita, juga yang terlintas di bawah sadar kita.
Karenanya, kita dapat berdo’a kepada Allah dan meminta
pertolonganNya kapanpun – saat berjalan, saat mengerjakan
sesuatu, saat duduk, ataupun berdiri. Sikap yang layak untuk
berdo’a kepadanya disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut.” (Surat al-A‘raf: 55)
Yang penting, orang yang berdo’a harus khusyu dan tulus.
PERTANYAAN 57
Apakah Allah menerima setiap do’a?
Allah
mendengar permohonan semua orang dan menjawab panggilan orang yang
menyeru namaNya. Hal ini dinyatakan dalam ayat berikut:
“Jika
hambaKu bertanya tentang Aku, katakan Aku dekat (kepada
mereka). Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang memohon
kepadaKu...” (Surat Al-Baqarah: 186)
Allah
menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia akan menjawab do’a orang
yang tertindas dan orang yang mengalami kesusahan jika mereka
memohon kepadaNya, asalkan mereka bersungguh-sungguh dan tulus dengan
apa yang dimintanya.
Namun mesti diingat
bahwa orang tidak selalu mengetahui apa yang baik dan apa yang
buruk bagi dirinya. Sesuatu yang kita anggap baik bagi diri
kita mungkin sebenarnya buruk.
Allah
mengetahui bahwa kita tidak tahu betul apa yang baik bagi kita
dan Dia mengatur segalanya. Karenanya, Dia kadang menolak untuk
mengabulkan suatu do’a. Namun kemudian memberikan yang lebih baik dari
itu jika saatnya telah tepat. Lagipula, manusia cenderung
tergesa-gesa dan kadang terlalu semangat untuk mendapatkan
segera apa-apa yang diinginkannya. Oleh sebab itulah, Allah
menunda pengabulan terhadap permohonannya. Dengan demikian,
orang yang berdo’a harus bersabar dan menanti kedatangan rahmatNya.
PERTANYAAN 58
Bagaimana cara bertaubat kepada Allah? Apakah hanya dengan mengatakan “Saya bertaubat” sudah cukup?
Sudah
cukup bagi seseorang jika ia mengucapkan dengan tulus bahwa ia
bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa dan kesalahannya. Kemudian
ia memohon ampunanNya dan berjanji untuk tidak mengulangi hal serupa
di kemudian hari. Allah berfirman:
Maka
barang siapa bertaubat setelah melakukan kejahatan dan
memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Al-Ma’idah: 39)
PERTANYAAN 59
Apakah Allah menerima setiap bentuk taubat?
Allah
menerima setiap bentuk taubat yang tulus asalkan pelakunya berjanji
tidak akan mengulangi kesalahannya, dan selanjutnya memperbaiki
perbuatannya. Besar kecilnya dosa tidak menjadi perbedaan. Yang
penting, ada kesungguhan untuk membuang perilaku yang buruk.
Keputusan Allah tentang pertaubatan ini dinyatakan dalam ayat
berikut:
Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubatnya orang-orang yang mengerjakan perbuatan
karena kejahilan (lalai), yang kemudian bertaubat dengan
segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya; dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (Surat An-Nisa’: 17)
PERTANYAAN 60
Bolehkah kita melakukan apapun kemudian bertaubat, dengan anggapan bahwa Allah akan mema’afkannya jika kita bertaubat?
Ini
adalah pikiran yang ngawur dan mengakibatkan banyak orang berbuat
salah. Allah mengetahui setiap hati dan rahasia yang tersembunyi di
dalamnya. Allah memang mengatakan bahwa Dia akan menerima
taubat orang yang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya serta
memperbaiki perbuatannya itu. Namun bagi orang yang berpikiran
bahwa “Allah nanti akan memaafkannya”, ia tetap harus
mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di akhirat kelak. Ia
akan menerima balasan atau hukuman yang setimpal dengan perbuatannya
itu.
Tidak diterima Allah taubat mereka
yang berbuat kejahatan setelah tiba ajal kepada mereka, seraya
mengatakan “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”। Dan tidak
pula bagi mereka yang mati dalam kekafiran. Bagi mereka itu
telah kami sediakan siksa yang pedih. (Surat An-Nisa’: 18)
PERTANYAAN 61
Pribadi apa yang harus diubah pada seseorang yang baru memulai kehidupan beragama?
Selain
mematuhi perintah-perintah Allah dan menyembahNya, perubahan
yang paling penting bagi mereka yang baru mulai menjalani kehidupan
beragama adalah membangun kehidupan yang berlandaskan moral yang
baik dengan selalu mengikuti hati nurani. Setiap orang akan
memiliki karakter dan cara hidup yang dipilihnya sebelum
menjadi terbiasa dengan aturan agama. Namun, setelah memulai
kehidupan agamanya, ia harus selalu memelihara setiap perilaku
yang baik untuk mencari ridha Allah. Dan dengan segera
meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan standar Al-Qur’an, atau
merubah dan memperbaikinya agar sejalan dengan moral-moral
Al-Qur’an.
Orang yang sungguh-sungguh
beriman tidak akan memiliki pandangan dan gaya hidup yang
berubah-ubah. Bagi mereka, Al-Qur’an merupakan satu-satunya
kriteria. Dan satu-satunya figur yang diteladani hanyalah para Nabi dan
orang-orang beriman, yang Allah jadikan teladan di dalam
Al-Qur’an.
PERTANYAAN 62
Setelah memulai syari’at Islam, apakah saya masih harus mempertanggungjawabkan semua dosa masa lampau?
Sebelum
mendapat peringatan, seseorang dianggap bodoh (lalai) dalam
masalah agama, tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Karenanya, jika ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampunannya,
serta tidak kembali atau mengulangi kesalahannya itu, ia tidak
harus bertanggungjawab atas dosanya di masa lampau. Dalam
pandangan Allah, yang penting kita tidak berusaha membenarkan
kesalahan atau dosa apapun.
Allah menyampaikan kabar gembira di bawah ini kepada orang-orang yang beriman:
Dan
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sungguh akan Kami
hapuskan dosa-dosa mereka dan akan Kami beri balasan yang lebih
baik dari apa yang mereka kerjakan. (Surat Al-‘Ankabut: 7)
PERTANYAAN 63
Perlukah menerangkan moral-moral Islam kepada orang lain?
Allah
mewajibkan kepada seluruh manusia untuk beragama Islam. Setiap
orang yang mengetahui keberadaan agama ini akan ditanya di akhirat
kelak apakah dia patuh kepada Al-Qur’an atau tidak. Menyeru
kepada jalan benar merupakan salah satu kandungan Al-Qur’an.
Oleh karena itu, orang yang menjalankan agama Allah harus
menyampaikan moral-moral Islam kepada orang lain, mengajak
mereka ke jalan yang benar. Yakni, mengajak mereka berbuat baik
dan mencegah mereka berbuat salah. Di dalam Al-Qur’an, Allah
menyampaikan perintah berikut ini:
Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang munkar; merekalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan.
(Surat Ali ‘Imran: 104)
PERTANYAAN 64
Bagaimana Allah menilai kesabaran kita?
Agama
Islam menyeru manusia untuk bersabar karena Allah. Hal ini
termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 7: “Dan untuk
Tuhanmu, bersabarlah.” Kesabaran merupakan salah satu sifat manusia
yang terpenting, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari moral baik yang dijunjung tinggi. Juga merupakan bagian
dari amal-amal baik untuk mencari ridha Allah.
Namun
demikian, kita harus membedakan antara kesabaran dengan
“toleransi”. Toleransi merupakan sifat baik yang timbul karena mau
menanggung kesusahan yang tidak menyenangkan atau menyakitkan.
Sementara kesabaran, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, bukan
sumber kesusahan bagi mereka yang beriman. Orang yang beriman
bersabar karena mencari ridha Allah. Karenanya, ia tidak merasa
susah untuk bersikap sabar; malah sebaliknya, ia mendapatkan
kesenangan batin darinya.
Seperti dinyatakan
dalam Al-Qur’an, kesabaran juga meliputi seluruh karakteristik
orang yang beriman. Sebab hanya dengan disertai kesabaran lah
sifat-sifat seperti rendah hati, dermawan, mau berkorban atau
keta’atan memiliki nilai yang sebenarnya. Artinya, kesabaran merupakan
sifat yang membuat sifat-sifat lainnya menjadi berharga dan
diakui.
PERTANYAAN 65
Apa arti “bertawakal kepada Allah”?
Betawakal
kepada Allah artinya menggantungkan diri kepadaNya karena
menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ada di
bawah kendalinya, serta merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat
menolong atau mencelakakan orang lain tanpa seijinNya.
Orang-orang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa, dan
segala yang dikehendakiNya akan terjadi hanya dengan mengatakan
“Jadilah!”. Mereka pun tak pernah tawar hati dalam menghadapi
kesulitan. Mereka tahu bahwa Allah akan menolong mereka, dan yakin bahwa
Allah akan memberikan kemudahan di dunia ini dan di akhirat
kelak. Menyadari hal itu, hati mereka selalu tentram dan
gembira.
Yang harus dilakukan seseorang yang
beriman hanyalah merespons segala kejadian dengan perbuatan
yang disukai Allah, dan menanti hasilnya sesuai kehendakNya.
Rahasia besar yang hanya difahami orang-orang yang beriman ini,
dijelaskan dalam ayat berikut:
...Barang
siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia memberikan kepadanya
jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak
disangka-sangka. Dan barang siap bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan
kehendakNya . Dan Allah telah mengadakan ketentuan atas segala
sesuatu. (Surat At-Talaq: 2-3)
PERTANYAAN 66
Apa itu taqwa? Siapa saja yang menyandang derajat taqwa?
Taqwa
artinya mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala pikiran
dan perbuatan merugikan yang dilarang Allah. Di dalam Al-Qur’an,
nama lain bagi orang beriman yang selalu ta’at kepada Allah
adalah “orang yang saleh”. Pentingnya sifat taqwa disebutkan
dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
...Berbekal
lah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwa
lah kepadaKu hai orang-orang yang berakal! (Surat Al-Baqarah:
197)
PERTANYAAN 67
Apa yang utama di mata Allah?
Di
mata Allah, keutamaan tidak didasarkan pada kekayaan, kedudukan,
kecantikan atau hal lain yang dimiliki manusia, melainkan
didasarkan pada kedekatan kepadaNya, yakni ketaqwaan:
Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling
taqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Waspada.
(Surat Al-Hujurat: 13)
PERTANYAAN 68
Apa itu tafakur?
Salah
satu karakteristik penting dari orang yang beriman kepada Allah
adalah kemampuan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah melalui
ciptaanNya. Ia melihat kekuasaan dan karya seni Allah di setiap
kehalusan dan kesempurnaan ciptaanNya, seraya memuji
KebesaranNya. Sikap demikian membuatnya semakin dekat kepada
Allah. Karakteristik seperti ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
(Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadaan berbaring serta memikirkan penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.’ (Surat Ali ‘Imran: 191)
Allah
menekankan pentingnya tafakkur bagi orang yang beriman. Di
banyak tempat dalam Al-Qur’an, akan kita temui ayat-ayat yang berbunyi
“Tidakkah kamu mau berpikir?” atau “Terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berpikir”.
Hal
yang dapat dipikirkan tidak terbatas jumlahnya. Seorang yang
beriman bisa memikirkan banyak hal, antara lain: tatanan alam semesta
yang luar biasa, mahluk-mahluk yang hidup di muka bumi, peristiwa
yang ia alami, rahmat Allah yang tiada henti, bencana yang
diturunkan kepada orang-orang kafir, surga, neraka, alam baka,
dan lain sebagainya. Dengan memikirkannya secara mendalam, ia
dapat menyadari keberadaan, kekuasaan dan kebijakan Allah
dengan lebih baik, dan lebih memantapkan keimanannya.
PERTANYAAN 69
Apakah agama Islam tidak bertentangan dengan sains?
Agama
tidak pernah bertentangan dengan sains. Allah lah yang menciptakan
keduanya. Maka ketidak sesuaian ataupun pertentangan di antara
keduanya merupakan hal yang mustahil. Di dalam A-Qur’an yang
diturunkan 1400 tahun yang lalu, ada penjelasan-penjelasan
ilmiah tertentu yang kini telah dibuktikan kebenarannya dengan
menggunakan peralatan teknologi abad 20. Pernyatan bahwa agama
bertentangan dengan sains merupakan kebohongan yang dibuat-buat
oleh mereka yang mengingkari Allah. Tujuan mereka adalah menciptakan
keraguan terhadap agama.
PERTANYAAN 70
Siapa saja ilmuwan yang percaya kepada Allah dan kebenaran agama?
Banyak
yang melakukan riset ilmiah melihat dengan mata kepala sendiri,
betapa rumit dan sempurnanya struktur dan keteraturan pada mahluk
hidup. Mereka melihat betapa serasinya hubungan antara satu
dengan lainnya. Mereka tidak dapat mengelak akan keberadaan
Allah yang Mahaagung. Kenyatan ini ditunjukkan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya adalah mereka yang berilmu... (Surat Fatir: 28)
Tidak
mengherankan jika banyak ilmuwan yang termasyur di masa kini
dan di masa lampau terkenal karena keyakinan dan kepasrahan
mereka kepada Allah dan agamaNya. Beberapa di antara mereka adalah:
Einstein, Newton, Galileo, Max Planck, Kelvin, Maxwell, Kepler,
William Thompson, Robert Boyle, Iona William Petty, Michael
Faraday, Gregory Mendel, Louis Pasteur, John Dalton, Blaise
Pascal, dan John Ray.
Di jaman kita, banyak
ilmuwan yang menegaskan keberadaan Allah। Lebih dari itu,
mereka melihat sains sebagai sarana untuk mengenal Allah.
Aliran “Kreasionisme” atau aliran “Rancangan Sadar” di Amerika
Serikat merupakan salah satu indikasi khusus.
PERTANYAAN 71
Bagaýmana cara bersyukur kepada Allah?
Menyembah
Allah merupakan salah satu amal penting untuk bersyukur atas
karunia Allah. Selain diungkapkan dengan kata-kata, rasa syukur dapat
diungkapkan melalui perbuatan. Misalnya, menggunakan pemberian
Allah untuk hal yang dianjurkanNya, untuk menolong orang yang
membutuhkan dan untuk tujuan-tujuan baik tanpa pemborosan.
Selain itu, ia harus menyadari pula bahwa segala yang
dibutuhkannya berasal dari Allah. Tidak ada sesuatupun yang ia
miliki. Semuanya semata-mata karena pemberian Allah. Dan ia harus
bersyukur atas semua itu. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Maka
makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang Allah berikan
kepadamu; dan syukurilah karunia ni’mat Allah, jika hanya kepadaNya
kamu menyembahnya. (Surat An-Nahl: 114)
PERTANYAAN 72
Mahluk macam apakah setan itu?
Setan
adalah mahluk ciptaan Allah dari jenis jin. Setelah Allah menciptakan
Adam sebagai manusia pertama, Allah memerintahkan kepada seluruh
malaikat untuk bersujud kepada Adam. Hanya setan yang tidak
mengikuti perintah Allah karena kesombongannya. Setan berkata:
Ya
Tuhanku, karena Engkau memutuskan bahwa aku sesat, aku akan
membuat manusia memandang baik terhadap segala yang ada di muka
bumi dan aku akan menyesatkan mereka semua. (Surat Al-Hijr: 39)
Setelah
itu setan diusir dari hadapan Allah. Ia meminta penangguhan usia
hingga hari kebangkitan untuk mempengaruhi manusia agar terjauhkan
dari jalan Allah dan menjadi sesat. Karenanya, setan merupakan
penghalang keberhasilan dan musuh yang paling berbahaya bagi
setiap manusia.
PERTANYAAN 73
Bagaýmana cara setan mendekati manusia? Cara-cara apa yang digunakannya untuk menyesatkan mereka?
Allah
menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa setan membisikkan anjuran-anjuran
jahat ke dalam hati manusia. Karenanya manusia diperintahkan untuk
berlindung kepada Allah dari bisikan jahat itu:
Katakanlah:
‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan
manusia, dari bisikan jahat yang tersembunyi, yang dibisikkan
ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (Surat An-Nas:
1-6).
Bisikan jahat merupakan taktik
setan yang paling busuk. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa
pikiran-pikiran tertentu berasal dari setan. Mereka mengiranya
sebagai pikirannya sendiri.
Sebagai contoh,
orang yang baru masuk agama Islam merupakan sasaran penting
bagi setan. Setan membuat agama nampak susah dipelajari bagi
orang tersebut. Atau membisikkan kepada orang tersebut bahwa apa
yang diamalkannya telah cukup dan tidak perlu lagi amal-amal lainnya.
Orang yang dipengaruhi ini bisa saja berpikir bahwa semua itu
benar. Contoh lainnya, setan menimbulkan perasaan-perasaan
takut, cemas, tegang, atau kesusahan pada manusia sehingga
membuatnya kepayahan. Ia berusaha mencegah mereka dari
perbuatan baik dan dari sikap dermawan, serta dari berpikir
secara sehat.
Mesti diingat bahwa setan
mempengaruhi manusia agar melakukan kebohongan pada setiap akar
kejahatan di dunia ini, termasuk dalam peperangan, pembunuhan
massa dan pelanggaran susila.
PERTANYAAN 74
Apakah setan memiliki kekuatan sendiri?
Hal
paling penting yang harus dipegang adalah bahwa setan tidak memiliki
kekuatan sendiri. Seperti mahluk lainnya, ia pun mahluk ciptaan
Allah dan ada dibawah kekuasaanNya. Ia tak dapat melakukan
apapun tanpa seijinNya. Setan bisa menyesatkan manusia atas
ijin Allah. Dengan cara ini, Allah menguji siapa yang turut dan
siapa yang menolak ajakan setan di dunia ini. Hal ini
dinyatakan Allah di dalam Al-Qur’an:
Dan
tidak ada kekuasaan setan terhadap mereka, melainkan agar kami
dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan
akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha
Memelihara segala sesuatu. (Surat Saba’: 21)
PERTANYAAN 75
Terhadap siapa pengaruh setan tidak mempan?
Godaan
setan tidak berpengaruh kepada orang yang sungguh-sungguh beriman.
Kenyataan ini disampaikan Allah dalam ayat berikut:
Sesungguhnya
setan itu tidak memiliki kekuasaan terhadap orang-orang yang
beriman dan bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya
hanya atas orang-orang yang mengambilnya sebagai temannya dan atas
orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (Surat
An-Nahl: 99-100)
PERTANYAAN 76
Apa “agama kaum jahiliyah”?
Apakah
hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakan
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin? (Surat Al-Ma’idah: 50)
Apapun ideologi,
filosofi atau wawasan dunianya, ada “agama” yang sama yang
dipegang dan dijalankan oleh mereka yang tidak menganut agama
yang benar. Agama ini menyimpang dari agama yang benar. Masyarakatnya
menerima pertimbangan, norma-norma, dan pikiran-pikiran yang
ditawarkan agama ini melalui propaganda intensif sejak mereka
lahir. Nama agama ini adalah “agama jahiliyah”.
Ciri
mendasar dari masyarakat yang menjalankan agama ini adalah
selalu mencari persetujuan masyarakatnya, bukannya mencari ridha
Allah. Mereka membangun kehidupannya di sekitar poros tujuan ini.
Yang
dituntut dari individu-individu yang tinggal dalam masyarakat
demikian adalah melaksanakan moral, budaya, sikap dan perilaku tertentu
yang diterima masyarakat, serta menunjukkan perangai yang
disukai anggota masyarakatnya.
PERTANYAAN 77
Apakah sistem yang dipraktekkan orang banyak selalu benar?
Masyarakat
adat yang terpisah jauh dari agama Allah beranggapan bahwa
pendapat orang banyak selalu benar. Ini merupakan kesimpulan yang
sama sekali keliru. Bahkan bertentangan dengan yang disebutkan Allah
dalam Al-Qur’an, “Kebanyakan manusia tidak akan beriman...”
(Surat Yusuf: 103).
Dalam ayat-ayat
lain, Allah juga menyatakan bahwa mereka yang mengikuti
mayoritas kafir akan mengalami kerugian. Pernyataan itu menyiratkan
bahwa di setiap jaman, orang-orang beriman selalu minoritas
sedangkan yang terjauhkan dari agama Allah selalu mayoritas.
Namun karenanya, kedudukan orang-orang beriman jauh lebih
tinggi dibanding mereka yang berpegang teguh pada “agama
jahiliyah”.
PERTANYAAN 78
Apa yang harus dilakukan untuk menolak “agama jahiliyah”?
Agar
selamat dari sistem yang ingkar kepada Allah ini, hal pertama, dan
juga yang terpenting, yang harus dilakukan adalah selalu berusaha
hanya mencari ridha Allah. Juga menjalankan dengan ketat
moral-moral dan cara hidup seperti yang disampaikan Allah dalam
Al-Qur’an. Orang yang meneladani petunjuk Al-Qur’an, secara
otomatis menjauhkan dirinya dari moralitas dan perilaku buruk
yang terbentuk dalam masyarakat jahiliyah.
PERTANYAAN 79
Sering ditekankan bahwa umat yang beriman bersifat bijaksana. Apa beda antara kebijaksanaan dan kecerdasan?
Kebijaksanaan
adalah sifat penting yang hanya dimiliki oleh umat beriman.
Namun ada perbedaan besar antara pengertian bijaksana menurut
masyarakat banyak dan bijaksana menurut agama. Kebijaksanaan yang
dirujuk Al-Qur’an merupakan konsep yang samasekali berbeda dari
kecerdasan. Kecerdasan merupakan kapasitas biologis yang
dimiliki manusia. Ia tidak pernah meningkat ataupun menurun.
Sedangkan kebijasanaan merupakan karunia Allah yang diberikan
kepada orang-orang beriman yang ta’at dan takut kepadaNya. Kebijaksanaan
seseorang meningkat sesuai dengan tingkat keta’atannya.
Ciri
utama dari orang yang bijaksana adalah rasa takutnya yang
besar kepada Allah dan kepatuhannya kepada perintahNya. Ia selalu
mengikuti hati nuraninya dan menilai segala sesuatu berdasarkan
Al-Qur’an untuk mencari ridha Allah. Secerdas dan sepandai
apapun dia, seseorang tidak akan memiliki kebijaksanaan tanpa
memiliki sifat di atas. Tanpa kebijaksanaan, orang cenderung
kurang mampu untuk memahami dan melihat kebenaran. Allah
menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kurangnya kebijaksanaan akan
menimbulkan kerusakan:
Sesungguhnya mahluk
terburuk di mata Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli,
yang tidak menggunakan akalnya. (Surat al-Anfal: 22)
Seorang
yang bijaksana juga memiliki visi. Ia mampu membuat keputusan
yang benar dan tepat. Karena ebijaksanaannya, ia mampu melihat esensi
dari peristiwa dan inti kebenaran suatu perkara.
PERTANYAAN 80
Faktor-faktor apa yang mengabuti kebijaksanaan seseorang?
Yang
melemahkan hati dan pikiran manusia adalah ambisi dan hawa
nafsunya. Misalnya, takut akan masa depan, iri hati, obsesi yang
sangat terhadap hal-hal duniawi, atau hal-hal yang romantis. Hal-hal
seperti ini menyita pikirannya dan mengalihkan perhatiannya
dari hal-hal yang lebih penting, seperti keagungan Allah dan
kesempurnaan ciptaanNya.
Allah mengingatkan kita bahwa keberuntungan hanya bisa diperoleh jika kita terbebas dari obsesi hawa nafsu:
...yaitu
mereka yang terpelihara dari keserakahan dirinya। Mereka
itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-Hashr: 9)
PERTANYAAN 81
Dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong. Apa arti ‘sombong’ dalam Al-Qur’an?
Menurut
Al-Qur’an, karakteristik utama dari orang yang sombong adalah
lupa bahwa segala yang dimilikinya, termasuk keunggulan non fisik,
merupakan pemberian Allah. Istilah sombong di sini bukan hanya bagi
sekelompok orang tertentu yang melupakan Allah dan bersikap
takabur. Seseorang bisa juga dikatakan sombong apabila ia
berpikiran bahwa kecantikannya bukan pemberian Allah, atau jika
ia bangga dengan keberhasilannya. Atau jika ia sudah merasa
berkecukupan, dan tidak pernah bertanya pada dirinya apakah ia
dapat lebih bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya. Atau jika
ia bersikap congkak.
Oleh karena itu,
setiap individu harus bersungguh-sungguh menghindari perilaku
demikian, serta harus menyadari bahwa ia sangat miskin
dibanding Allah. Di hadapan Allah, semua mahluk adalah lemah. Allah bisa
saja mengambil segalanya darinya jika Dia menghendakinya.
Nasib akhir dari orang yang sombong disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
Dan
apabila dikatakan kepadanya, “Takutlah kepada Allah”,
bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka
cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka
jahanam itu seburuk-buruknya tempat tinggal. (Surat Al-Baqarah:
206)
PERTANYAAN 82
Sikap yang bagaimana yang dimaksud dengan rendah hati dalam Al-Qur’an?
Berbeda
dengan orang yang sombong, seorang yang rendah hati menyadari
bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan anugrah Allah, atau
sebagai batu ujian dariNya. Sebagai manusia, ia menyadari bahwa
dirinya lemah dan miskin serta tidak memiliki kekuatan untuk
melakukan apapun kecuali atas kehendak Allah. Karenanya, ia
selalu mengembalikan segalanya kepada Allah dan bersyukur atas
segala keruniaNya. Allah memuji sikap rendah hati dari
orang-orang yang beriman:
Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang berjalan di muka bumi dengan rendah hati... (Surat Al-Furqan: 63)
PERTANYAAN 83
Apakah manusia bertanggung jawab atas niatnya?
Setiap orang bertanggungjawab atas niatnya. Ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:
“...Allah akan menghukummu atas niat yang kamu sengaja dalam hatimu...” (Surat Al-Baqarah: 225).
Niat
dari setiap tindakan harus selalu ditujukan kepada Allah.
Meskipun suatu tindakan nampak baik, jika niatnya untuk mencari ridha
orang lain, atau untuk mendapatkan manfa’at duniawi lainnya,
tindakan itu tidak akan berkenan di mata Allah.
PERTANYAAN 84
Apa yang dimaksud dengan pernyataan “kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu”?
Ada
anggapan yang sangat keliru bahwa dunia ini merupakan
satu-satunya kehidupan bagi manusia. Padahal, dunia hanyalah tempat
sementara yang diciptakan Allah untuk menguji manusia. Dan
kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian.
Karenanya, segala sesuatu yang memikat hati manusia dan menyita
pikirannya dalam kehidupan dunia yang singkat ini merupakan
“kesenangan yang menipu”.
Dalam ayat berikut,
Allah mengingatkan manusia akan tipuan ini serta mengingatkan
bahwa tempat tinggal sesungguhnya, yang jauh lebih indah,
adalah di sisi Allah:
Dijadikan indah pada
pandangan manusia karena kecintaan terhadap apa yang
diinginkannya, yaitu: wanita, anak, harta yang banyak dari
emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali
yang jauh lebih baik. (Surat Ali ‘Imran: 14)
PERTANYAAN 85
Apa hikmah dari kelemahan yang kita miliki?
Banyak
kekurangan fisik yang diderita manusia. Pertama sekali,
manusia harus selalu menjaga dan memelihara kebersihan badan dan
lingkungannya. Untuk urusan itu, banyak waktu yang tersita.
Namun sebesar apapun usaha yang dilakukan, hasilnya hanya
berpengaruh untuk sementara waktu saja. Dalam sejam saja, gigi
yang kita sikat akan terasa kotor lagi, seolah tak pernah
dibersihkan. Seseorang yang mandi di musim panas, dalam beberapa
jam saja akan merasa seolah belum mandi.
Penting
difahami bahwa kekurangan seperti ini mempunyai tujuan.
Kekurangan yang kita miliki bukanlah sifat yang diwariskan, melainkan
sifat yang sengaja diciptakan.
Pergeseran
usia dan perubahan sifat tubuh yang menyertainya juga
merupakan kelemahan yang diciptakan agar manusia menyadari bahwa
hidup ini hanya sementara. Dengan demikian, manusia tidak menjadi
terikat dengan kehidupan duniawi yang penuh cacat. Kemudian
lebih memusatkan tujuannya pada kehidupan akhirat, “tempat
tinggal” yang sesungguhnya.
Telah Allah ingatkan dalam Al-Qur’an bahwa tujuan terbaik bagi manusia adalah kehidupan akhirat:
Dan
tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau
belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Surat Al-An‘am: 32)
PERTANYAAN 86
Apa alasan utama dikisahkannya umat-umat terdahulu di dalam Al-Qur’an?
Allah
menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia telah menunjukkan jalan
yang benar kepada semua umat di sepanjang masa. Dia telah mengingatkan
pula kepada mereka melalui nabi-nabiNya bahwa kehidupan dunia
ini hanya sementara, dan tempat tinggal sebenarnya adalah
kampung akhirat. Meskipun demikian, kita dapat pelajari bahwa
kebanyakan dari mereka menolak dan tidak mendengar ajakan
nabinya. Oleh karena itu, Allah menjatuhkan hukuman yang keras
dari arah yang tidak disangka-sangka, dan menyapu sebagian dari
mereka dari muka bumi.
Salah satu alasan
penting dikisahkannya umat-umat yang lampau di dalam Al-Qur’an
adalah untuk meyakinkan bahwa manusia sekarang tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Jika sekedar mempelajari dan menilai saja
bencana yang menimpa umat terdahulu serta bekas arkeologinya, tanpa
mengambil hikmah dari kejadiannya, maka itu merupakan tindakan
yang sangat keliru. Allah memerintahkan kita untuk menjadikan
bencana tersebut sebagai bahan pelajaran:
Dan
telah berapa banyak umat-umat yang lebih besar kekuatannya
kami binasakan sebelum mereka ini! Mereka telah menjelajahi banyak
negeri, namun apakah mereka mendapat tempat untuk berlari?
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi
orang-orang yang memiliki hati, atau yang menggunakan
pendengaran, sedang ia menyaksikan (buktinya). (Surat Qaf:
36-37)
PERTANYAAN 87
Untuk apa jin diciptakan?
Keberadaan
jin banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Seperti halnya
manusia, jin diciptakan Allah untuk menyembahNya. Mereka hidup
dalam dimensi yang berbeda dari manusia. Seperti disebutkan dalam
ayat-ayat tertentu, manusia tidak bisa melihat jin, sebaliknya
jin dapat melihat manusia.
Ada
keyakinan keliru yang telah meluas bahwa jin dapat memberikan
informasi mengenai masa depan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa
mereka tidak memiliki kemampuan demikian. Juga disebutkan bahwa
mereka pun bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan Al-Qur’an.
Allah menegaskan bahwa jin diciptakan untuk tujuan yang sama
seperti halnya manusia.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahKu. (Surat Az- Zariyat: 56)
PERTANYAAN 88
Seperti apakah malaikat itu?
Malaikat
adalah mahluk yang tak pernah menyalahi perintah Allah dan
hidup dalam dimensi yang berbeda dari manusia. Tidak seperti
manusia, malaikat diciptakan bukan untuk diuji. Allah menciptakan mereka
sebagai mahluk yang tidak pernah berbuat salah. Mereka diberi
tugas yang berbeda-beda yang mereka kerjakan dengan saksama.
Jibril ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada
nabi-nabiNya. Ada malaikat pencatat di kedua sisi manusia yang
mencatat segala perbuatan yang mereka lakukan. Ada malaikat
yang ditunjuk untuk mencabut nyawa manusia pada waktu kematiannya.
Ada malaikat penjaga neraka yang bertugas mengawasi agar penghuni
neraka mengalami siksaan yang berat.
Allah menyatakan bahwa para malaikat merupakan abdi-abdiNya:
Al
Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, tidak
pula para malaikat yang terdekat kepada Allah... (Surat An-Nisa’:
172)
Allah bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Dia, Demikian pula bersaksi para malaikat dan
orang-orang yang berilmu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Ali ‘Imran: 18)
PERTANYAAN 89
Bagaimana cara mendefinisikan waktu?
Waktu
dapat didefinisikan sebagai metode dimana satu saat
dibandingkan dengan saat lainnya. Contoh berikut akan menjelaskannya.
Misalnya, jika seseorang mengetuk sebuah benda, ia akan mendengar
bunyi tertentu. Jika ia mengetuknya lagi lima menit kemudian,
ia akan mendengar bunyi yang lain. Maka ia akan merasa ada
selang di antara bunyi pertama dengan bunyi kedua. Selang
antara ini disebut sebagai waktu.
Namun pada
saat ia mendengar bunyi kedua, bunyi pertama yang didengarnya
hanya ada dalam imajinasinya. Ia merumuskan konsep “waktu”
dengan membandingkan saat yang sedang ia alami dengan saat yang disimpan
dalam ingatannya. Jika perbandingan ini tidak dibuat, maka
tidak akan ada konsep waktu.
PERTANYAAN 90
Apa arti relativitas waktu?
Seperti
disebutkan di atas, istilah waktu difahami melalui
perbandingan yang dibuat di antara dua peristiwa. Namun kesimpulan ini
dihasilkan dalam otak dan sifatnya relatif. Hal ini biasa
dialami dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi
rasanya berlangsung berjam-jam, sebenarnya hanya berlangsung
beberapa menit, atau bahkan beberapa detik saja.
Banyak
ayat Al-Qur’an menyebutkan beragam contoh mengenai hal ini.
Beberapa ayat menerangkan bahwa manusia merasakan waktu secara
berbeda, dan kadang merasakan waktu yang singkat sebagai waktu yang
sangat lama. Ayat berikut merupakan contoh saat Allah menegur
orang-orang yang zalim:
Allah bertanya, “Berapa
lamakah kamu tinggal di bumi?”। Mereka menjawab: “Kami tinggal
sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang
yang menghitung”. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal di bumi
melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui yang sesungguhnya!”.
(Surat Al-Muminun: 112-114)
PERTANYAAN 91
Apa itu takdir?
Sesungguhnya
kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran. Dan perintah
Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (Surat
Al-Qamar: 49-50)
Takdir adalah pengetahuan
Allah atas semua peristiwa di masa lampau ataupun di masa depan
seolah sebagai “kejadian tunggal”. Kebanyakan orang bertanya
bagaimana Allah bisa mengetahui peristiwa yang belum terjadi.
Pikiran seperti ini membuat mereka gagal memahami kebenaran adanya
takdir.
Harus disadari bahwa
“peristiwa yang belum terjadi” hanya berlaku bagi kita. Allah
sendiri tidak terikat ruang ataupun waktu, karena Dia lah yang
menciptakan keduanya. Tidak ada konsep waktu bagi Allah. Karena
alasan inilah, masa lampau, masa yang akan datang dan masa
sekarang, semuanya sama saja bagi Allah. BagiNya segala sesuatu telah
terjadi dan telah berakhir.
PERTANYAAN 92
Apakah manusia tidak bisa merubah takdir Allah?
Masyarakat
kita keliru memahami jika berpendapat bahwa manusia dapat
merubah takdir Allah. Misalnya, kita suka mendengar ungkapan dangkal
bahwa seorang pasen telah “mengalahkan takdirnya” ketika berhasil
melewati masa kritis yang mematikan. Padahal, tak seorang pun
dapat merubah takdirnya. Seseorang tidak meninggal ketika
melewati penyakit yang kritis, karena memang tidak ditakdirkan
meninggal saat itu. Sungguh ironis bahwa ia ditakdirkan
mempunyai pikiran seperti itu dan membohongi dirinya sendiri dengan
mengatakan “saya mengalahkan takdir”.
Takdir
merupakan perbendaharaan ilmu Allah. Bagi Allah, waktu
hanyalah kejadian sesaat dan Dia menguasai seluruh ruang dan waktu.
BagiNya, segala sesuatu telah ditentukan dan telah berakhir
sebagai takdir. Dari apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an, kita
pun dapat memahami bahwa hanya ada satu waktu bagi Allah.
peristiwa yang akan terjadi setelah kematian kita (dalam sudut
pandang kita) disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai peristiwa
lampau yang telah terjadi. Allah tidak terbatasi kerangka relativitas
waktu seperti yang kita alami. Allah menghendaki segala sesuatu
dalam kehampaan waktu: manusia telah menjalaninya, dan semua
peristiwa ini telah dilewati dan telah berakhir.
PERTANYAAN 93
Bagaýmana terjadinya kebangkitan?
Allah
Maha Kuasa dan Dia lah yang menciptakan segala mahluk. Dia menciptakan
manusia dari setetes mani. Dia menciptakan segala sesuatu dari
tiada. Maka tidak diragukan bahwa Allah berkuasa untuk
menciptakan kembali semuanya dengan cara serupa. Dalam
Al-Qur’an, Allah menjawab pertanyaan di atas saat mencela
orang-orang kafir yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan:
Itulah
(neraka) balasan bagi mereka, karena mereka kafir terhadap
ayat-ayat Kami dan berkata, “Apakah bila kami telah menjadi
tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami
benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai mahluk baru?” Dan
apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang
menciptakan langit dan bumi kuasa pula menciptakan yang serupa
dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang
tiada keraguan padanya? Maka orang-orang yang zalim itu tidak
menghendaki kecuali kekafiran. (Surat Al-Isra:’ 98-99)
PERTANYAAN 94
Mengapa filosofi materialistik tidak benar?
Filosofi
materialis adalah sistem pemikiran yang berpendapat bahwa
segala sesuatu terdiri dari materi, bahwa alam semesta tidaklah
diciptakan, melainkan sudah ada sejak lama sekali dan akan kekal abadi.
Namun
perkembangan ilmiah abad terakhir telah membuktikan bahwa
pendapat ini sama sekali tidak benar. Pertama-tama, masyarakat ilmiah
telah mengakui bahwa alam semesta ini mempunyai permulaan. Ia
tercipta dari tiada dan memiliki akhir, seperti dinyatakan
Al-Qur’an 1400 tahun yang lampau. Selanjutnya, sains menemukan
bahwa apa yang kita sebut sebagai “materi” hanyalah berupa
“kumpulan persepsi-persepsi”. Dua pernyataan mendasar ini
menolak dan sekaIigus membatalkan filosofis materialis.
PERTANYAAN 95
Bagaimana alam semesta tercipta?
Dia Pencipta langit dan bumi... (Surat Al-An‘am: 101)
Kini,
para ahli telah mencapai mufakat bahwa alam semesta terjadi
dari tiada secara tiba-tiba melalui sebuah ledakan besar yang
disebut Big Bang. Bukti kuat yang menyebabkan diterimanya Teori Big
Bang ini adalah sebagai berikut:
Pengembangan
alam semesta: Pada tahun 1929, Edwin Huble menemukan bahwa
semua benda langit bergerak saling menjauh satu sama lain. Ini menjadi
bukti yang meyakinkan bahwa alam semesta terjadi melalui ledakan
sebuah titik (Big Bang).
Radiasi
Latar Kosmik: Karena alam semesta ini muncul melalui sebuah
ledakan, maka harus ada radiasi yang tersisa akibat ledakan tersebut.
Tentunya, radiasi ini harus tersebar merata di seluruh alam
semesta. Maka bukan hal yang mengejutkan jika kemudian radiasi
ini ditemukan pada tahun 1965. Pada periode selanjutnya,
keberadaan radiasi ini ditegaskan secara meyakinkan melalui
bantuan satelit.
Perbandingan jumlah hidrogen
dan helium di alam semesta: Bukti penting lainnya bagi Teori
Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di luar angkasa.
Dari hasil perhitungan terakhir diketahui bahwa konsentrasi
hidrogen dan helium ini sesuai dengan perhitungan teoritis sebagai sisa
yang tertinggal akibat Big Bang. Jika alam semesta ini tidak
memiliki permulaan dan akan terus kekal, maka unsur hidrogennya
mesti telah habis dan telah berubah seluruhnya menjadi helium.
Teori
Big Bang, yang menyiratkan bahwa alam semesta terjadi dari
tiada (diciptakan), akhirnya meruntuhkan pernyataan filosofi
materialis yang berpendapat bahwa alam semesta ada sejak mula
sekali dan bersifat kekal.
PERTANYAAN 96
Bagaimana kaum materialis menjelaskan keberadaan ruh manusia?
Dengan
pendapat bahwa segala sesuatu hanya terdiri dari materi yang
dapat dilihat mata dan disentuh tangan, kaum materialis tak pernah
mampu menjelaskan keberadaan ruh manusia dan kesadaran. Seperti kita
tahu, atom merupakan elemen penyusun dari setiap mahluk,
termasuk tubuh manusia. Ini berarti bahwa seluruh mahluk, hidup
ataupun mati, terbentuk dari kombinasi atom-atom dalam beragam
bentuk (senyawa).
Kenyataan di
atas sangat menyulitkan kaum materialis. Manusia adalah mahluk
sadar yang memiliki kehendak, kemampuan berpikir, bicara,
memahami dan mengambil keputusan. Mustahil mahluk seperti manusia
terjadi karena bersatunya atom-atom secara acak, mendadak dan
kebetulan, seperti pendapat kaum materialis. Hal demikian itu
mustahil karena atom-atom tidak mampu berpikir, menimbang dan
mengambil keputusan lalu menyatu untuk tiba-tiba menjadi ruh
manusia.
Karenanya, kaum materialis tidak memiliki penjelasan bagi adanya ruh manusia.
PERTANYAAN 97
Pendapat apa saja yang diajukan kaum evolusionis?
Teori
evolusi berpendapat bahwa kehidupan terbentuk secara
kebetulan. Menurut teori ini, atom mati taksadar menyatu membentuk sel,
lalu membentuk mahluk-mahluk hidup, termasuk manusia. Untuk
menunjukkan dan membuktikan kegagalan pernyataan kaum
evolusionis ini, mari kita rumuskan sebuah “eksperimen” berikut
yang kita namai “Formula Darwinian”:
Biarkan
kaum evolusionis memasukkan segala bahan penyusun mahluk hidup
dengan komposisi yang tepat ke dalam sebuah drum. Biarkan
mereka menambahkan bahan lain apapun yang kira-kira diperlukan. Jika
mau, tambahkan pula asam-amino dan protein-protein apapun
sebanyak yang diperlukan; meskipun dalam kondisi normal
kemungkinan adanya bahan tersebut hanya satu banding 10 pangkat
950. Berikan panas dan air sesuai kebutuhan dan aduk dengan
alat yang paling mutakhir.
Jika
kaum evolusionis melakukan hal di atas dengan berbagai
modifikasi yang menurut mereka perlu, lalu mereka menungguinya
bermilyar-milyar atau bahkan triliunan tahun, mereka tidak akan
berhasil membuat manusia. Mereka tidak akan mampu membuat harimau,
singa, semut, bunga mawar, bunga lili, burung merak, burung
pelatuk, ikan paus, kangguru, kuda, pisang, jeruk, anggur dan
jutaan mahluk hidup lainnya seperti itu. Bahkan sebuah sel
tunggal pun tidak akan mampu mereka buat.
PERTANYAAN 98
Apakah Pernyataan kaum evolusionis tentang pembentukan kehidupan tersebut benar?
Tidak.
Pernyataan kaum evolusionis bahwa mahluk hidup terbentuk
secara kebetulan sedikitpun tidak benar. Di dunia ini tidak pernah ada
proses evolusi. Mari kita buktikan ketidakbenaran teori ini.
Kaum evolusionis mempunyai beberapa pendapat berikut:
Bahwa spesies baru terbentuk melalui seleksi alam dan mutasi.
Mekanisme
seleksi alam merupakan gagasan yang mengatakan bahwa mahluk
hidup yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan habitatnya akan
punah, sedangkan yang mampu menyesuaikan diri akan terus hidup dan
membentuk spesies baru. Gagasan seperti ini mustahil terjadi.
Mekanisme demikian hanya menyaring spesies yang ada namun tidak
akan pernah menghasilkan spesies baru.
Demikian
pula halnya dengan mutasi. Proses mutasi hanya menimbulkan
kerusakan pada DNA. Efeknya hanya merusak. Mustahil sekali mutasi
menyebabkan terbentuknya spesies baru.
Mereka berpendapat bahwa hewan darat berasal dari hewan laut yang pindah ke darat.
Mustahil
sekali hewan laut dapat pindah ke darat dan memulai
kehidupannya di darat. Mahluk hidup tidak dapat merubah dirinya menjadi
mahluk yang sama sekali berbeda, baik dari segi bentuk, berat
dan sistem tubuhnya yang hanya cocok untuk hidup di air, dari
temperatur tubuhnya, struktur ginjalnya, sistem pernafasannya
serta cara hidupnya.
Mereka berpendapat bahwa burung berevolusi dari reptil.
Hal ini mustahil karena:
Sayap burung mustahil terbentuk dan berasal dari perubahan sisik reptil.
Cara kerja paru-paru burung sama sekali berbeda dari cara kerja paru-paru hewan darat.
Tulang burung lebih ringan dibanding tulang hewan darat. Ini merupakan faktor penting bagi kemampuan terbang.
Sistem otot-tulang pada burung sama sekali berbeda dengan sistem otot-tulang hewan darat.
Mereka berpendapat bahwa hewan mamalia berevolusi dari reptil.
Ini
pun merupakan pernyataan yang tak berdasar. Tubuh reptil
diliputi oleh sisik, berdarah dingin dan berkembang biak dengan
bertelur. Sedangkan hewan mamalia berdarah panas, tubuhnya
ditutupi oleh bulu dan berkembang biak dengan melahirkan.
PERTANYAAN 99
Apa bukti lain yang menolak kebenaran evolusi?
Banyak sekali bukti rinci yang dapat kita gali, namun beberapa di antara bukti yang penting adalah sebagai berikut:
Pertama
sekali, sains moderen telah membuktikan secara meyakinkan
bahwa benda hidup tidak dapat timbul dari benda mati.
Sejauh
ini, tidak ditemukan (tergali) satu bentuk fosil-antara pun
yang dapat mendukung pendapat kaum evolusionis bahwa mahluk-mahluk
hidup berevolusi dari nenek moyangnya. Meski telah jutaan fosil
spesies normal ditemukan, tak ada satupun di antaranya
merupakan mahluk setengah-reptil setengah-burung, atau mahluk
setengah-ikan setengah-reptil, atau mahluk setengah-kera
setengah-manusia.
Protein
sebagi elemen dasar mahluk hidup tidak dapat berkembang secara
kebetulan. Peluang terbentuknya protein dari 500 asam amino
secara kebetulan adalah satu dibanding 10 pangkat 950. Pendek
kata, peluangnya sama dengan nol.
PERTANYAAN 100
Dapatkah teori evolusi menjelaskan munculnya kehidupan di bumi ini?
Tidak, teori evolusi tidak mengajukan penjelasan apapun atas timbulnya kehidupan di bumi ini.
Saat
lapisan tanah dan catatan fosil diteliti, nampak bahwa
organisme hidup muncul secara tiba-tiba. Lapisan tertua tempat
ditemukannya fosil-fosil mahluk hidup adalah lapisan
“Kambrium”, yang diperkirakan berusia 520-530 juta tahun.
Fosil-fosil
yang ditemukan dalam lapisan Kambrium terdiri dari beragam
spesies invertebrata (tak bertulang belakang) yang kompleks.
Yang paling menarik, seluruh susunan dengan ragam yang luas ini muncul
secara tiba-tiba tanpa nenek moyang pendahulu. Itulah sebabnya
dalam literatur geologi, peristiwa ajaib ini disebut sebagai
“Ledakan Kambrium”.
Terbanjirinya bumi secara
tiba-tiba oleh beragam spesies yang jumlahnya sangat banyak
ini, serta tanpa nenek moyang dan tanpa periode evolusi,
merupakan pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh kaum evolusionis.
PERTANYAAN 101
Tipuan apa yang dilakukan kaum evolusionis untuk membohongi publik?
Gambar-gambar
“manusia kera” yang kita lihat di koran-koran,
majalah-majalah, atau film-film, semuanya merupakan lukisan imajinasi
buatan kaum evolusionis. Kadang dari sebuah gigi saja, kaum
evolusionis dapat merekayasa bentuk tubuh lainnya, meskipun
tanpa keberadaan jejak fosilnya. Misalnya membuat struktur
hidung dan bibir, bentuk rambut, bentuk alis mata dan lainnya
hanya berdasarkan khayalan saja. Kemudian, membuat ilustrasi
mahluk setengah-manusia setengah-kera, bahkan lengkap dengan
gambaran yang memuat anggota keluarga dan lingkungan sosialnya. Mereka
berusaha menyesatkan publik dengan metode ini.
Kaum
evolusionis juga tidak ragu membuat fosil-fosil palsu untuk
mewakili apa-apa yang tidak mereka temukan. Pemalsuan yang paling
termasyur adalah seperti berikut ini:
Manusia
Piltdown: Dengan pemalsuan ini, Kaum evolusionis membohongi
dunia sains. Mereka memasangkan rahang orang utan yang baru
mati kepada tengkorak manusia yang berusia 500 tahun. Gigi-gigi baru
ditambahkan agar tengkorak tersebut mirip manusia.
Sambungan-sambungannya diratakan dengan mengikirnya, dan
seluruh bagiannya dinodai dengan natrium bikromat agar nampak
tua.
Manusia Nebraska: Pada tahun 1922, kaum
evolusionis menyatakan bahwa fosil gigi geraham yang mereka
gali memiliki baik karakteristik manusia maupun kera. Riset
ilmiah yang ekstensif dilakukan pada gigi yang disebut manusia
Nebraska ini. Berdasarkan sebuah gigi ini saja, digambarlah
rekonstruksi kepala dan tubuhnya. Lebih dari itu, manusia Nebraska ini
dilukis beserta istri dan anak-anak mereka. Namun pada tahun
1927, bagian lain dari kerangka tubuhnya ditemukan. Dan telah
dipastikan bahwa gigi tersebut adalah gigi babi hutan.
PERTANYAAN 102
Adakah “manusia primitive” itu?
Apa
yang disebut “manusia primitif” itu tidak pernah ada. Sangat
banyak bukti untuk itu. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Fosil
yang digali di wilayah Atapuerca, Spanyol, pada tahun 1995
telah meruntuhkan kisah “evolusi manusia”. Fosil tengkorak manusia
ini berusia 800.000 tahun, era dimana menurut kaum evolusionis
mahluk setengah-kera setengah-manusia berada. Pada
kenyataannya, tengkorak ini sama sekali tidak berbeda dengan
manusia moderen. Artinya, tidak ada perbedaan antara manusia
800.000 tahun yang lalu dengan manusia sekarang.
Dalam
majalah New Scientist terbitan 14 Maret 1998 ada artikel
berjudul “Manusia dahulu lebih pintar dari yang kita perkirakan...”.
Disebutkan di dalamnya bahwa pada 700 ribu tahun yang lalu,
manusia yang dinamai Homo Erektus telah pandai melaut. Manusia
ini memiliki pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk
membuat perahu, serta memiliki budaya menggunakan transportasi
laut. Hal demikian tidak dapat disebut sebagai “primitif”.
Fosil
jarum yang berusia 26 ribu tahun milik manusia Nenderthal
menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan mengenai pakaian
puluhribuan tahun yang lalu. Ini menyingkapkan bahwa manusia Nenderthal,
yang sengaja dilukis kaum evolusionis sebagai mahluk mirip
kera, pada kenyataannya tidak berbeda dari manusia moderen.
PERTANYAAN 103
Apakah pembentukan sistem-sistem kompleks pada mahluk hidup dapat dijelaskan dengan konsep evolusi?
Tidak
dapat. Sistem-sistem kompleks yang terdapat pada mahluk hidup,
seperti mata dan telinga, memiliki jumlah komponen yang banyak.
Sistem-sistem ini hanya dapat berfungsi jika seluruh komponennya utuh.
Contohnya, agar mata dapat melihat, semua komponen yang
jumlahnya sekitar 40, harus utuh. Mata tidak akan dapat melihat
jika salah satu kompenennya, misalnya retinanya atau kelenjar
air matanya tidak ada. Jadi, dapat disimpulkan bahwa seluruh
bagian dari sistem harus tercipta secara serentak. Ini,
tentunya, membuktikan sekali lagi ketidakbenaran teori evolusi.
Jadi,
apa artinya jika suatu struktur kompleks terjadi dalam
seketika? Tak diragukan lagi bahwa timbulnya komponen yang
banyak dalam waktu yang bersamaan di tempat yang sama hanya bisa
terjadi sebagai akibat penciptaan khusus yang disengaja.
PERTANYAAN 104
Mengapa kelompok tertentu terus mempertahankan teori evolusi meskipun tidak memiliki kebenaran ilmiah?
Orang-orang
yang menganggap sepi akan keberadaan Allah serta enggan
mengakui bahwa mereka harus bertanggungjawab kepadaNya, berusaha
mencari pembenaran atas posisi mereka. Mereka berusaha mencari
berbagai cara agar orang lain setuju terhadap pendapat mereka.
Dengan menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi secara
kebetulan, mereka berusaha agar orang lain mengakui
ketidakberadaan Sang Pencipta; dan karenanya, manusia tidak
perlu bertanggungjawab kepada siapapun.
Sekarang
ini, teori evolusi berfungsi sebagai arus utama bagi
filosofi-filosofi kaum kafir. Itulah sebabnya, orang-orang yang
bersikeras menolak keberadaan Allah terus mempertahankan teori
evolusi. Mereka mempertahankan teori ini sebagai wadah
ideologis dan filosofis, meskipun tidak memiliki kebenaran
ilmiah. Teori yang mereka sendiri kadang tidak peduli benar
tidaknya.
Mereka berkata: ‘Maha Suci
Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau
ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana।’ (Surat Al-Baqarah: 32)