IPTEK VS AGAMA = Netral
Posted by on Aug 26, 2010
Berbicara
tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diperdebatkan dengan dunia
Islam, seolah tiada habisnya. Bahkan ada yang mengatakan “ ini
merupakan sebuah paradigma yang marak diperbincangkan dan tidak
berkesudahan.”
Lalu, apakah yang dipermasalahkan sebenarnya ? Bukankah pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan selalu di kembalikan pada fitrah manusia tentang mencari ilmu pengetahuan. Dan Al-Qur’an mengajak umat Islam untuk mempelajarinya. Karena jelas Al-Qur’an diturunkan bagi manusia sebagai pedoman dan petunjuk dalam menganalisis setiap kejadian di alam ini yang merupakan inspirasi terhadap perkembangan IPTEK.
Dan bukankah Islam tidak pernah menganggap adanya dikotomi ilmu
pengetahuan dan agama ? Allah berfirman : “ Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat.”, juga ayat ini : “ Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.”
Dan disinilah dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan
satu totalitas yang integral yang tidak dapat dipisahkan satu dengan
lainnya. Sementara bila ilmu pengetahuan dikaitkan dengan fungsi
sosialnya, bukankah merupakan sebuah kesatuan antara manusia dengan
pengetahuannya.Lalu, apakah yang dipermasalahkan sebenarnya ? Bukankah pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan selalu di kembalikan pada fitrah manusia tentang mencari ilmu pengetahuan. Dan Al-Qur’an mengajak umat Islam untuk mempelajarinya. Karena jelas Al-Qur’an diturunkan bagi manusia sebagai pedoman dan petunjuk dalam menganalisis setiap kejadian di alam ini yang merupakan inspirasi terhadap perkembangan IPTEK.
Sampai disini mungkin pembaca akan bertanya, ‘apa hubungannya agama dengan pengembangan IPTEK dewasa ini ?’ Nah, ekor pertanyaan yang berbunyi ‘apakah peranan agama terhadap pengembangan IPTEK seperti yang di harapkan itu telah terjadi ?’. Jawaban saya simple, belum.
Sejauh pengamatan ini berjejak, pola hubungan antara agama dan IPTEK baru sampai pada taraf tidak saling mengganggu. Baru sampai pada titik pengusahaan agar tidak saling tabrak pagar masing-masing. Dan konflik yang timbul di antara keduanya diselesaikan dengan bijak.
Ambillah contoh polemik tayangan televisi swasta yang dianggap tidak sesuai denagn nilai-nilai agama (adegan mesum, penonjolan aurat,dll) . Pihak yang sadar kalau adegan itu tidak layak ditonton, tentu akan mengatakan bahwa tayangan itu dapat merusak mental bangsa. Namun, bagi mereka yang pro, hanya bergumam “ kalau tidak suka ya matikan saja televisinya”. Sementara kita tahu bahwa perusahaan televisi swasta hanya memikirkan keuntungan dari penayangan film yang digemari masyarakat. Tentu ini pemikiran yang memisahkan dunia bisnis dengan agama. Ibarat setan _menggoda manusia_ dengan nabi _mengingatkan manusia_. Karena bisnis hanya untuk mencari keuntungan sebanyk-banyaknya, sedang urusan agama menjadi kewajiban guru dan ulama untuk mengajarkannya.
Mensiasati hal ini, muncullah sensor intern dari perusahaan televisi swasta. Dan hasilnya adegan hot sex tak dapat lagi Mensiasati hal ini, muncullah sensor intern dari perusahaan televisi swasta. Dan hasilnya adegan hot sex tak dapat lagi ditayangkan karena telah dipotong oleh badan sensor perfilman.
Bila melirik konflik ajaran agama dengan ajaran ilmu pengetahuan, ada sebuah pertentangan antara teori evolusi dan teori ciptaan. Kalau guru biologi mengajarkan asal-usul manusia itu dari jenis tertentu yang kemudian pecah menjadi dua cabang : yang satu mengikuti garis pongid dan menjadi kera modern, yang lain mengikuti garis manusia yang berkembang dari purba sampai modern. Sementara guru agama mengajarkan bahwa Allah lah yang menciptakan manusia dalam bentuknya seperti sekarang. (Lihat buku biolaogi SMU kelas 3 dan bandingkan dengan buku PAI untuk SMU).
Di Amerika, konflik ini diselesaikan dengan melarang diajarkannya teori ciptaan di seluruh sekolah negeri. Sedang di Indonesia, konflik ini tidak di selesaikan dan dianggap tidak ada.
Kalau pelajaran biologi mengajarkan teori evolusi dengan pura-pura tidak tahu bahwa penganut semua agama pun tahu tantang creationism (manusia diciptakan), sebaliknya, Pendidikan Agama Islam mengajarkan teori ciptaan dan menyalahkan teori evolusi tanpa menjelaskan alasannya. Hal yang saya bingungkan, apakah keadaan seperti ini tidak membuat lulusan SMA bingung dalam hal asal-usul manusia? (Jangan-jangan gurunya juga bingung?:) )
Meski demikian, IPTEK berperan penting dalam kelanjutan pembangunan nasional di Indonesia. Namun, Indonesia juga harus menyadari bahwa pengembangan IPTEK harus selaras dengan nilai agama dan budaya bangsa. Kendati secara eksplisit antara agama dan IPTEK berhubungan netral, tidak saling mengganggu, tapi secara implisit diharapkan pengembangan IPTEK itu di jiwai, di gerakkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama. Tak semudah membalikkan telapak tangan, memang. Karena kita harus menguasai prinsip dan pola pikir keduanya. Bukankah demikian ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar