MENABUR KEBAIKAN, MENUAI BERKAH
Kita harus menyadari seburuk apapun perbuatan seseorang, dia pasti
dan pernah berbuat baik. Keburukannya kita katakan sebagai kesalahan,
tetapi kebaikannya harus dihargai lebih baik karena dia telah berbuat
benar karena kebaikan itu identik dengan kebenaran. Kesalahan pasti
berakibat dosa jika tidak mendapat ampunan dari Yang Maha Kuasa. Tetapi
kebaikan juga pasti mendatangkan pahala yang ujung-ujungnya membawa
berkah. Persoalan kita adalah kapan menabur kebaikan, menuai berkah?
Jawabnya adalah sepanjang hayat masih dikandung badan. Lantas kebaikan
yang bagaimana yang bisa menuai berkah? Yaitu melakukan kebaikan secara
tulus/ ikhlas, tidak mempunyai tujuan lain kecuali mencari Ridha Allah
semata. Perhatikan firman Allah : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat
dan mengeluarkan zakat dan demikian itulah agama yang lurus” (QS.
Al-Bayyinah : 5). Biasanya orang seperti ini tidak akan mau
memperdengarkan (sum’ah) kebaikan mereka. Apabila
satu saat nanti ada orang lain yang pernah mereka tolong, lalu kemudian
mendzalimi mereka, maka itupun tidak akan mereka mengungkapkan kembali
kebaikan yang pernah dilakukan. Disilah berkahnya menjadi orang tulus,
karena kebaikan selalu melekat pada diri dan menjadi milik mereka secara
abadi. Kebaikan seperti inilah, mendatangkan kebahagiaan untuk mereka
dihadapan manusia, terlebih dihadapan Yang Maha Kuasa. Hal-hal yang
demikian itulah yang saya maksud sebagai menabur kebaikan, menuai
berkah.
Manusia pada umumnya dan orang beriman pada khususnya harus menabur
kebaikan supaya menuai berkah. Mengapa demikian? Karena berkah inilah
yang mendatangkan kebahagiaan. Oleh karena itu bila kita bertanya apa
artinya umur yang berkah? Maka jawabnya, umur yang memberi kebaikan dan
bermanfaat bagi sesama. Harta yang berkah adalah harta yang diperoleh
secara benar dan dibelanjakan pada jalan yang benar pula. Kekuasaan yang
berkah adalah kekuasaan memberi kesejahteraan pada masyarakat. Ilmu
yang berkah adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama alias cerdas dan
mencerahkan. Perbuatan yang berkah adalah berbuat baik dan enggan
sebaliknya. Begitulah seterusnya hidup dalam keberkahan bersama
taburan-taburan kebaikan. Berkah seperti inilah yang disebut sebagai tak
lekang kena panas, tak lapuk kena hujan. Dia eksis dalam diri manusia
bahkan penolong buat manusia itu sendiri pada saat dimintai
pertanggungan jawab oleh Allah SWT.
Memang berkah itu indah, berkah itu membahagiakan, dan berkah itu
mencukupkan dan berkah itu menolak segala yang buruk. Sehingga orang
bisa menikmati keindahan, kebahagiaan,, kecukupan serta menolak segala
yang buruk itu hanyalah mereka yang berbuat kebaikan dengan tulus.
Mereka tidak tergiur dengan segala kemewahan palsu lantaran sudah
mencintai kebaikan sejati. Bagi mereka yang penting adalah : Radhiyallahu anhum waradhu anhu
: Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, yang
demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS.
Al-Bayyinah : 8). Semoga Kita Bisa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar